Tuesday, November 14, 2017

THE UNTOLD STORY



Lelaki ini banyak menginspirasi saya, seperti halnya pada sore ini. Hujan begitu lebat, akan tetapi waktu ashar tidak menghalanginya untuk pergi ke Masjid. Meskipun entah kenapa pada sore hari ini azan tak terdengar berkumandang seperti biasanya dari Masjid di seberang alun alun.

Saya mulai mengenal Beliau ketika saudari sepupu saya menikah dengannya, Mas Jono saya memanggilnya. Beliau merintis karir di salah satu bank plat merah hingga kemudian menjadi salah seorang kepala wilayah.

Dalam puncak karirnya, Beliau tiba tiba saja resign. Tak hanya saya yang bertanya tanya, kenapa tiba tiba Beliau memilih mengundurkan diri di puncak karir, padahal pensiun sudah tak lama lagi.
Meskipun saya agak segan, pada suatu hari saya memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Beliau. Dan kemudian Beliau bercerita mengenai kegelisahan mengenai #riba dan proses hidayah yang didapatkannya manakala di tanah suci. Tentang bagaimana saat itu Imam besar mengulang ulang sebuah surah dalam Al Quran mengenai riba hingga tiga kali

Masha Allah...
Saya tak mampu berkata apa apa lagi. Bagi saya Beliau adalah orang yang hebat, tak hanya dari segi ilmu dan kedisiplinan. Istiqomah Beliau untuk tetap menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya sangatlah luar biasa. Semoga Beliau senantiasa diberi kesehatan, sisa usia yang barokah, rezeki berlimpah yang halal dan tak pernah kekurangan apapun dalam hidupnya
Amin...

Monday, November 13, 2017

Perjalanan Terberat & Terjauh Seorang Muslim

Hampir seperti biasanya, aku terjaga pada sepertiga malam. Entah kenapa kali ini saat aku terjaga, aku merenungi ulang perjalanan perjalananku.

Melihat kembali foto foto travelling yang aku pamerkan di media sosialku, aku merasa begitu sedih. Sering aku dengan penuh kebanggaan memamerkan pencapaianku kemana mana, mendaki gunung atau pun menjelajah pantai pantai. akan tetapi ketika azan usai berkumandang, aku sering kali merasa enggan untuk segera menunaikan ibadah shalat lima waktu secara tepat waktu dan berjammaah. Aku masih bermalas malasan dan asyik dengan kesibukan dunia, bahkan kadang berat sekali hanya untuk sesaat beranjak meninggalkan smartphone atau laptop.

Mendengar cerita teman teman ku, harusnya aku bersyukur terlahir sebagai Muslim yang tinggal di Indonesia. Masjid dan Mushalla hampir seluruh ada di setiap pojok persimpangan. Azan pun tak pernah terlambat dikumandangkan.

Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang sahabat yang telah lama tinggal di Irlandia, sebagai salah satu negara dengan masyarakat Islam yang masih minoritas. Betapa sulitnya untuk menjaga wudhlu, selain itu untuk mendapatkan air disana tak semudah di Indonesia. Kemana mana sampai harus membawa air mineral dalam botol untuk berwudhlu kembali.

Akan tetapi dari ceritanya, Mbak Fefy Rachmat masih bersyukur bisa menjalankan ibadah shalat dengan merasa tenang dan aman meskipun Islam di negerinya masihlah minoritas dan masih ada pula yang memandangnya sebagai agama teroris. Beliau berpendapat, “Dibandingkan negeri negeri Islam seperti Palestina, Syuriah dan Negara Negara di timur tengah, kami masih dapat shalat tanpa merasa was was. Di banyak Negara Islam masih terjadi konflik senjata. Setiap hari dihadapkan pada situasi perang, bom bisa meledak kapanpun tanpa pernah bisa diduga,”

Harusnya saya merasa malu pada diri sendiri. Padahal jelas jelas saya pernah membaca Al An'am ayat 32, bahwasannya "Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"

اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ

Betapa selama ini aku jauh terlena pada dunia, hingga ayat yang dulu pernah aku baca dan pahami tidak juga menggerakkan hatiku untuk lebih banyak beribadah. Malah aku lebih jauh tenggelam pada kesenangan semu. Atau memang aku sebagai manusia harus lebih banyak belajar pada kematian yang tak pernah dapat bersahabat dengan siapapun, datang dengan tiba tiba tanpa pernah diduga.

Aku merasa perlu untuk menuliskan ini, sebagai pengingat untuk diriku sendiri, betapa langkah ku semakin lama semakin mendekati kematian. Aku nggak ingin mengulang segala penyesalanku.

Sunday, October 1, 2017

NGOPI, ANTARA WARISAN BUDAYA DAN LIFESTYLE


Kopi akan selalu hadir dalam relasi sosial dalam tingkatan kasta apapun. Tidak bisa ditampik bahwa para pekerja pada pagi hari lazim menikmati secangkir kopi sebelum memulai aktivitas menembus kemacetan Ibukota. Kopi tidak bisa dielakkan dalam pilihan menu dan hidangan hang out di café pada sore hari. Kopi akan menjadi teman bagi insan yang mencari kekhusyukan sepertiga malam. Sepertinya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam setiap relasi sosial kita, kopi mengambil tempat yang cukup intim.



Ini mengingatkan saya kepada percakapan mengenai kegiatan menikmati kopi dalam konteks relasi sosial. Apakah aktivitas menikmati kopi merupakan sebuah budaya atau gaya hidup? Contoh sederhana yang diajukan adalah kebiasaan orang dewasa di wilayah pedesaan yang menikmati kopi dalam segala macam bentuk aktivitas sosialnya, mulai dari rumah, di kebun, di pengajian, bahkan di kedai sekalipun. Kebiasaan menikmati kopi yang berlangsung turun-menurun ini sudah menjadi budaya. Sementara itu, sebagai manusia urban, kebiasaan menikmati kopi di tempat-tempat yang spesifik di wilayah ibukota lebih cenderung dinilai sebagai sebuah gaya hidup. Susah untuk mempertahankan argumentasi bahwa kegiatan ini adalah “budaya”, ketika menikmati kopi perlu dilengkapi dengan Wi-Fi gratis yang superkencang, colokan laptop yang bersliweran, dan suasana café yang cozy.

v60 Technique

Sulit mengakhiri perdebatan mengenai aktivitas menikmati kopi sebagai sebuah budaya atau gaya hidup. Habis energi hanya untuk mempertahankan bahwa tubruk itu tradisi asli, sementara espresso dan cappuccino adalah budaya asing. Relasi sosial dalam kopi tidak bisa diputus sepihak. Seolah-olah ia hanya menjadi gaya hidup kelas menengah ibukota ketika dibandrol beberapa puluh ribu rupiah per gelasnya. Atau menjadi teman rakyat kecil ketika kopi dinikmati di warung kopi selepas berkebun. Bagi saya pribadi, aktivitas menikmati kopi adalah pembebasan.

Aeropress Technique

Ada keterhubungan relasi sosial yang jelas dan tidak terputus dalam setiap cangkir kopi yang tersaji di hadapan kita. Ada harapan dari para petani kopi ketika panen tiba untuk mendapatkan penghasilan demi membiayai keluarganya. Ada kalkulasi keuntungan oleh para tengkulak ketika harga biji kopi sedang membaik. Ada penambahan pendapatan negara ketika kopi sebagai komoditas yang bisa diekspor ke luar negeri. Ada geliat usaha ketika menjamur franchise, café atau kedai kopi di banyak tempat. Ada kalkulasi risiko yang dihitung oleh para trader dalam memantau pergerakan komoditas kopi di antero dunia. Semua aktivitas tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling terjalin dan berpilin.

Petani kopi di Batu Malang, Jawa Timur

Lalu, bagaimana soal menikmati kopi sebagai pembebasan? Pada kondisi hari ini akan lebih penting untuk memahami bahwa aktivitas menikmati kopi bukan sekadar budaya atau gaya hidup. Tetapi lebih kepada apa yang ditemukan di setiap teguknya, apa yang bisa dihayati di setiap cerita relasi sosial di belakangnya. Setiap rasa pahit, asam, manis, kecut yang dirasakan oleh lidah merupakan keistimewaan menikmati kopi, namun tersisipkan juga relasi sosial di dalamnya. Sehingga aktivitas menikmati kopi akan membawa pada lepasnya keterbelengguan otoritas tertentu yang akan mendikte cara dan preferensi dalam menikmati kopi bahkan memutus cerita relasi sosial di belakangnya. 

Coffee and Lifestyle
Bahwa rasa generik kopi adalah manis karena dicampur gula atau ritual-ritual tertentu yang perlu dilewati agar tercipta sensasi menikmati kopi yang asli. Saya kira, ngopi lebih dari sekedar budaya atau silaturahmi, bahkan bagi kaum muda yang mendeskripsikan dirinya sebagai masyarakat modern yang kekini-kinian, ngopi lebih dari sekedar life style. Jadi mari kita rumat budaya ngopi, untuk menjalin silaturahmi. Setidaknya ketika kita duduk bersama dalam satu meja, jangan asyik dengan gadget masing – masing. Makna dari ngopi adalah duduk berbincang menjalin persahabat dan saling memahami satu sama lain.




Thanks to Mr. Park from Coffee Belt in Batu City. Nice place with good coffee and friendship

Tuesday, September 12, 2017

PATAH

Terlalu banyak persimpangan
Kerikil dan tajam bebatuan

Tiba tiba kau memilih berhenti
Melepas mimpi,  frustasi
Pergi mengejar bahagiamu sendiri

Aku patah
Seperti layang layang tanpa arah
Sebegitu mudah kah kau menyerah
Ataukah harkatmu menjadi lebih rendah?

Sebentar  saja aku merasakan lara
Kini aku kembali mengembara
Cukuplah nanti karma mu kau bawa serta

Malang, 12 September 2017

Friday, August 25, 2017

TAN MALAKA

Tan Malaka
Merawat Ingatan ; Melawan Lupa 
 
 
 
Tak pernah ada Indonesia tanpa seorang Tan Malaka. Orang orang lebih memuja Soekarno Hatta daripada seorang Tan Malaka. Mereka lebih sering berziarah ke Kalibata daripada ke makam seorang perintis kemerdekaan yang makamnya jauh di pedalaman Desa. Tan Malaka pulalah yang mendorong tokoh pemuda sekaligus pengagumnya, Sukarni agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Sahabat dekat Jendral Soedirman yang berpikiran sama menginginkan Indonesia merdeka 100% dan melawan penjajah tanpa kompromi. Dan Beliaulah yang pertama kali mencetuskan konsep Republik Indonesia lewat Naar de Republiek yang kemudian menjadi pedoman Soekarno Hatta dkk, bahkan mahakarya WR. Soepratman “Indonesia Raya” terinspirasi dari buku Tan Malaka yang berjudul Massa Actie (aksi Massa), yang juga karena kedapatan membaca dan menyimpan buku ini Soekarno dipenjara lebih berat.
 
Perjalanan mengenai pahlawan asal Desa Pandan Gadang tidak jauh dari Suliki, Minangkabau, Sumatera Utara itu belum banyak diungkap secara luas. Begitu hebatnya era orde baru mengkebiri sejarah mengenai Tan Malaka yang gugur secara mengenaskan di tangan bangsa sendiri, Dia ditembak atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi Brawijaya. Soekotjo terakhir berpangkat brigadir jenderal dan pernah menjadi Walikota Surabaya, yang kemudian meninggal pada tahun 1980-an. Bahkan saya pribadi tidak pernah menjumpai nama Beliau dalam pelajaran sejarah semasa sekolah, guru guru sejarah saya pun juga tak pernah menyinggung nama Beliau. Entah karea tidak ada dalam kurikulum atau memang karena guru guru sejarah saya saat itu tak punya keberanian untuk mengungkapkan kebenaran, atau mungkin memang karena peran guru guru mengajar hanya sebagai mata pencaharian untuk mendapatkan penghasilan, bukan sebagai panggilan untuk mencerdaskan bangsa. Bahkan cukup menyedihkan ketika beberapa waktu yang lalu saya diundang anak anak mahasiswa Universitas PTN ternama di Malang yang dengan terang terangan memberi label komunis juga PKI terhadap sosok Beliau.
 
Nggak ada yang salah dari generasi yang lahir di era orde baru apabila kurang mengenal tentang sosok Tan Malaka, ini karena peran orde baru yang begitu kuat dalam memberikan stempel atheis, kiri, komunis dan PKI pada pribadi Tan Malaka. Hanya saja tidak banyak generasi yang lahir di era orde baru untuk lepas dari kebodohan atau bangkit melawan ketakutan mereka untuk lebih mendalami kebenaran sejarah bangsa. Untuk itu perlunya kita merawat ingatan dalam sebuah gerakan melawan lupa. Cukup sudah kita terdiam memendam ketakutan, saatnya kita bangkit dengan menyuarakan kebenaran.
 
Semua tuduhan terhadap Tan Malaka adalah keliru dan sangat mudah kita mentahkan. Sejak usia 16 tahun Beliau telah menjadi salah seorang hafidz Quran. Pada tahun 1920, belum genap 24 tahun usianya saat itu, Tan sudah menjadi figur prominen di antara kelompok-kelompok kiri setempat. Ia diajukan sebagai kandidat Volksraad atau parlemen di Sumatra Timur. Namun, ia memilih bergelut di antara pergerakan serta pikiran sosialis tak lain karena kepenatannya dengan penindasan terhadap sesamanya di perkebunan-perkebunan Eropa. Lagi pula, apa lagi yang menyediakan perkakas analisis untuk mengungkap praktik eksploitasi oleh Belanda saat itu? Apa yang menyediakannya kesempatan untuk menyuarakan keadilan?
 
Tan pun tak pernah menjadi seorang komunis belaka. Dalam kongres keempat Komintern pada 1922, Tan mengkritik haluan Komintern yang saat itu mengambil pendirian antagonistis terhadap Pan-Islamisme. Sarekat Islam, baginya, dapat menjadi gerakan yang mengembalikan kekuatan kepada para petani yang melarat di bawah kapitalisme kolonial. Islam dapat menjadi kekuatan yang mengembalikan apa yang seharusnya dimiliki orang-orang papa. Tan sendiri, di hadapan sidang tersebut, tak menampik bahwa dirinya adalah seorang Muslim. "Ya, saya katakan,” ujarnya, "ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim.”
 
Tan, jelas, tidak memperlakukan komunisme sebagai satu ideologi. Ia adalah metode. Satu alat berpikir sistematis untuk membedah realitas dan menganalisis bagaimana seyogianya pergerakan digulirkan, pembagian wewenang dilangsungkan, dan pengorganisasian kerja ditata. Ia menggunakannya ketika harus mengkritik Sukarno dan partainya terlalu disibukkan dengan memikat rakyat dengan kata-kata, "grande-eloquence,” dan kehilangan pijakan bagaimana mengorganisir serta mendisiplinkan mereka. Dan, tentu saja, ia menggunakannya untuk menggerakkan orang-orang agar mau berdiri di hadapan kolonialisme Eropa saat itu.
 
Hampir sepanjang hidupnya Tan Malaka berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Rusia yang menguat menjadi Uni Sovyet pernah disinggahinya. Di sana Tan menjadi anggota dari Komunis Internasional (komintern). Jika banyak kaum komunis tunduk pada Joseph Stalin sebagai penguasa Uni Sovyet, Tan dikenal sebagai tokoh komunis Indonesia yang berani berbeda dengan Stalin. Ia kemudian dikeluarkan dari Komintern dan dikenal sebagai pemikir yang dicap Trotskys. Setelah ke Rusia, Tan hidup berkelana dengan identitas lain ke Tiongkok, Filipina, dan daerah lain, demi menghindari kejaran aparat kolonial. Tan baru kembali ke Indonesia pada 1942. Ketika itu Hindia Belanda sudah ditekuk kekuasaannya oleh balatentara Jepang. Tan tentu merasa aman dari kejaran aparat kolonial yang sudah tiarap sepanjang Perang Pasifik
Ketika Tan Malaka sudah kembali ke tanah airnya dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, ternyata Indonesia belum benar-benar bebas dari Belanda. Ia merasa para pemimpin negara baru ini, yaitu Soekarno, Hatta, dan Sjahrir terlalu lembek terhadap Belanda yang masih terus berusaha menguasai Indonesia. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan dengan adanya proklamasi itu sudah diraih sepenuhnya, jadi tidak perlu melakukan perundingan apapun dengan Belanda. Ia khawatir perjanjian-perjanjian seperti Linggarjati dan Renville justru merugikan Indonesia nantinya.
 
Tan Malaka akhirnya tetap berkeliling dan berjuang mengusir Belanda yang mencoba kembali menyusup ke Indonesia. Beliau pantang berdiplomasi dengan pihak manapun. Baginya, “Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya,” Ia juga mendirikan perkumpulan beranggotakan masyarakat yang kecewa terhadap pemerintah Indonesia yang lebih memilih jalur perundingan, padahal masyarakat menilai bahwa Indonesia seharusnya telah merdeka. Pihak pemerintah yang berusaha menekan konflik merasa kerepotan dengan ulah Tan Malaka yang berusaha mempertahankan kemerdekaan ini sehingga ia ditangkap dan dipenjara.
 
Setelah keluar dari penjara, ternyata apa yang ia khawatirkan tentang hasil perundingan tersebut benar-benar terjadi dengan isi perjanjian Renville yang hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sumatera sebagai wilayah Republik Indonesia. Tan Malaka yang jengkel kembali melakukan gerakan-gerakan untuk menentang hal ini. Tapi sekali lagi ia malah dianggap pembuat onar, dan kemudian harus gugur karena intrik busuk bangsa sendiri.

Dalam catatan sejarah pergerakan nasional (1908-1945) ideologi komunis memang menjadi salah satu aliran yang berpengaruh dalam usaha-usaha memerdekaan Hindia Belanda dari tangan pemerintahan kolonial. Ideologi Komunis di Indonesia yang berasal baik dari hasil fikir Marx yang diperoleh dari bacaan atas karya-karya Marx atau dari kekaguman terhadap pemikiran Lenin yang diambil dari pola gerakan Bolshevik di Rusia, berkembang pesat dan menjadi motor sejarah pergerakan selain ideologi nasionalis dan Islam. Perkembangan ideologi komunis yang pesat di latar belakangi cara pandang komunisme yang menganggap penjajahan pihak Belanda merupakan kelas borjuis terhadap bangsa Indonesia yang sebagian besar kelas proletar dan harus memperjuangkan kepentingan kelasnya dalam menghadapi kapitalisme Belanda.
 
Perkembangan ideologi komunis dalam masa pergerakan nasional juga tidak dapat dilepaskan dari pada tokoh-tokoh yang aktif menggalang kekuatan massa dan propaganda-propaganda mengenai kelas-kelas sosial. Awalnya, ideologi komunis dibawa oleh Sneevlit, seorang agen Komitern (Komunis Internasional). Sneevlit lantas mendirikan ISDV (Indische Social Democratishce Veregining) dan lantas mengirim anggotanya yang bersifat radikal untuk menginfliltrasi ke dalam tubuh SI. Selain itu, Sneevlit juga mendirikan VSTP (Veereniging van Spoor-en Tramwegpersonel) sebuah organisasi buruh kereta api. Selain Sneevlit, ada Semaun, seorang tokoh radikal yang menginfiltrasi SI dan mampu menjadi ketua SI cabang Semarang dan menjadi salah satu pendiri Partai Komunis Indonesia.
 
Gerakan kiri dalam sejarah pergerakan nasional nyatanya menjadi satu ruh bagi radikalisasi pergerakan nasional yang pada periode awal abad ke-20 dianggap tumpul. Sebelum muncul gerakan kiri, keinginan untuk mengusir penjajahan Belanda praktis hanya diwakili oleh Indische Partij, itupun dapat dikatakan gerakan kiri jika mengacu pada Douwes Dekker yang seorang sosialis-demokrat. Radikalisasi masa pergerakan nasional memang tidak dapat terlepas dari gerakan kiri yang saya sebut diatas hingga mampu menciptakan mitos Hantu Merah bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda.
 
Tan Malaka menganut ideologi komunis sebagai dampak kekaguman terhadap Revolusi Oktober di Rusia dan kegemarannya membaca literatur Marxis setelah itu. Tetapi alur perjuangan dan pemikiran Tan Malaka selanjutnya banyak memunculkan konfrontasi antara Tan dengan organisasi komunis yang ada. Selisih pemikiran Tan dengan tokoh-tokoh komunis bukan hanya terhadap gerakan Komunis Indonesia, namun juga dengan tokoh dan organisasi Komunis Internasional (Komitern). Konfrontasi yang terjadi ini akibat perbedaan pemikiran Tan Malaka dengan tokoh-tokoh komunis demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa di Indonesia dari tangan kolonialisme Belanda.
 
Banyak masyarakat yang menganggap bahwa Tan Malaka merupakan pengkhianat karena membela atau memiliki ideologi yang sama dengan Partai Komunis Indonesia (Partai yang pada zaman Orde Baru sangat dimusuhi dan ideologinya dilarang untuk disebarkan). Namun ternyata disisi lain, bagi pihak komunis Tan Malaka pun dianggap seorang pengkhianat, bahkan beberapa tokoh komunis Indonesia seperti Musso bersumpah akan membunuh Tan Malaka karena dianggap tidak mendukung pemberontakan PKI 1926. Konfrontasi pemikiran Antara Tan Malaka dengan Organisasi Komunis terjadi bukan karena ada perbedaan ideologi, namun lebih kepada perbedaan penafsiran tentang cara-cara menerapkan pokok-pokok pikiran Marx di Indonesia dan cara-cara untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Konfrontasi ini menunjukkan bahwa Tan Malaka sebenarnya merupakan seorang nasionalis tulen yang selalu mementingkan kepentingan bangsanya diatas kepentingan organisasi (partai) maupun ideologi.
 
Tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah, dengan alasan itu menurut Tan Malaka, perjuangan antara komunisme dan Pan-Islamisme tidak perlu dipertentangkan. Karena tujuan Pan Islamisme sekarang ini di Indonesia merupakan perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia. Tujuan yang sama dengan apa yang diperjuangkan oleh para pengikut paham Komunisme.
 
Pada November 1922, Kongres keempat Komunis Internasional diadakan. Dalam Kongres ini Tan Malaka diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya menyoal pertentangan komunis dengan gerakan Islam. Menurut Lenin dalam kongres Komitern yang kedua yang menghasilkan draf "Perjuangan melawan Pan Islamisme", organisasi Islam menghambat gerakan komunis di berbagai negara, sehingga hubungan antara Islam dan Komunis tidak dapat dipertahankan lagi. Hal ini lah yang ditentang oleh Tan Malaka. Saat diberi kesempatan untuk memberikan pendapat, Tan Malaka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membela persatuan Komunis dengan gerakan Islam.
 
Menurut Tan persatuan organisasi komunis dengan gerakan Islam di Jawa memiliki sebuah kesamaan yaitu perjuangan melawan kapitasilme Internasional. Bahwa di Jawa, pergumulan Komunisme dengan Sarekat Islam telah mampu memperoleh massa dan melakukan propaganda di dalamnya. Sarekat Islam melakukan agitasi ke pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: "Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar". Ini menunjukkan bahwa Sarekat Islam memiliki propaganda yang sama dengan Partai Komunis, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.
 
 
 
Empat belas tahun setelah kematiannya, tepatnya pada 28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat nama Tan Malaka sebagai pahlawan nasional Indonesia. Namun 3 tahun kemudian, setelah Soekarno turun dari jabatan presiden (1966) dan digantikan oleh era Orde Baru. Nama Tan Malaka kembali disembunyikan dari sejarah Indonesia, dan bahkantidak pernah disebutkan dalam daftar nama-nama pahlawan nasional di sekolah seluruh penjuru Indonesia selama puluhan tahun bahkan mungkin sampai sekarang. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan keterlibatan Tan Malaka yang sangat kental dengan gerakan kiri, sosialis, atau komunis yang menjadi musuh besar pada era pemerintahan Orde Baru.
 

Saya bertanggung jawab dengan semua tulisan tulisan saya
Bagus Rochadi


Selopanggung, 25 agustus 2017

Monday, August 21, 2017

MUNGKIN ESOK


Dan apabila ini adalah terakhir kalinya aku melihat senja, sedangkan aku masih tak pernah tahu di di dunia mana engkau berada. Aku berharap alunan rindu yang pernah ada adalah hal termanis yang pernah aku punya.

Rindulah yang selalu membuatku tetap terjaga, menumbuhkan harapan menjadi doa doa. Rindu pula yang melipurkan lara, meski aku asing bagi semesta.

Maaf bilamana esok tak lagi aku bisa melantunkan doa, semoga itu adalah pertanda kita akan kembali bersua.

Thursday, June 22, 2017

MUI DAN SERTIFIKASI HALAL

Pertama tama sebagai umat Muslim dan penggemar kuliner berbentuk mie tentunya saya mengucapkan terima kasih atas rilis BPOM yang menyatakan bahwa dua produk mie Samyang U-Dong dan Kimchi impor dari Korea Selatan ternyata mengandung minyak babi, dan rilis ini tentunya menjelaskan bahwa kedua produk tersebut tidak layak konsumsi bagi umat Muslim yang jumlah penduduknya mendominasi negeri ini. Bersyukur hingga saat ini saya belum pernah mengkonsumsinya. Tapi tentunya yang harusnya berterima kasih tidak hanya saya seorang, melainkan para korporasi yang bergerak pula dalam bidang usaha produksi mie instant. Oplah persaingan pasar mereka tentunya hingga saat ini tidak (baca belum) terganggu dengan kehadiran produk produk import yang masih terkendala label "HALAL"

Hal yang membuat saya tergelitik untuk menulis adalah mengenai peran MUI yang notabene sebagai satu satunya lembaga yang berhak mengeluarkan sertifikasi halal. Hingga saat ini saya masih bingung akan status kelembagaan MUI. Bagaimana bisa sebuah lembaga warisan orde baru yang cenderung otokrasi memiliki hak untuk penarikan terhadap uang dari masyarakat yang mengurusi sertifikasi halal. MUI ini sebenarnya organisasi negeri apa swasta?

Masa berlaku sertifikasi halal adalah 3 tahun, dan harus mulai mengurus perpanjangan sejak 6 bulan sebelum masa berlakunya habis. Jadi, dalam lima tahun, pengusaha harus dua kali mengurus surat halal. Sekali pengurusan biayanya sebesar Rp 6 juta, sehingga bila ditotalkan bisa mencapai 12 juta dalam lima tahun. Apabila angka ini dikalikan dengan 40 juta pengusaha, maka hasil yang ditarik dari masyarakat dalam lima tahun mencapai Rp480 triliun. Jumlah yang cukup fantastis bukan...??

Saya menulis bukan karena menolak keberadaan MUI, saya hanya berharap agar MUI yang konon katanya adalah diwakili para ulama bersedia dengan besar hati untuk melakukan audit publik. Jangan sampailah sebuah lembaga keagamaan yang harusnya ngurusi kemashlatan umat malah menjadi organisasi komersil yang berada di balik kepentingan kepentingan duniawi. Dan yang tidak kalah penting, Pemerintah harusnya lebih tegas dalam memperjelas status MUI. Apakah ini lembaga negeri atau organisasi swasta?

sek sek, saya kok baru kepikiran klo Miras itu haraml. Tapi kenapa MUI tidak berusaha mendesak Pemerintah agar miras tidak boleh beredar di Indonesia? Harusnya MUI memaksa agar Pemerintah menutup pabrik pabrik miras, trus ini kemana Umat Islam bersatu kemarin ya? masalah penistaan agama ribut ribut kenceng, ini masalah barang haram beredar dari dulu sampe sekarang kok diem aja? Atau mungkin pandangan MUI berbeda tentang Miras, jadi mereka menganggap miras itu halal dan karena itu dibiarkan saja beredar sampai sekarang?

Saya sebagai seorang Muslim, bukan berarti membenci MUI atau mau menistakan para ulama. Saya berharap umat Muslim memberi contoh dan teladan pertama agar negeri ini menjadi lebih baik lagi. Saya suka sedih apabila ada yang mengepalkan tangan dan mengucapkan takbir dengan suara lantang. Mari sama sama menjadi agen Muslim, dan memberi pengertian bahwa Islam adalah agama yang santun.

 Bagus Rochadi


Batu, 27 Ramadhan 1438 Hijriah
Bagus Rochadi. Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "