Tuesday, September 12, 2017

PATAH

Terlalu banyak persimpangan
Kerikil dan tajam bebatuan

Tiba tiba kau memilih berhenti
Melepas mimpi,  frustasi
Pergi mengejar bahagiamu sendiri

Aku patah
Seperti layang layang tanpa arah
Sebegitu mudah kah kau menyerah
Ataukah harkatmu menjadi lebih rendah?

Sebentar  saja aku merasakan lara
Kini aku kembali mengembara
Cukuplah nanti karma mu kau bawa serta

Malang, 12 September 2017

Friday, August 25, 2017

TAN MALAKA

Tan Malaka
Merawat Ingatan ; Melawan Lupa 
 
 
 
Tak pernah ada Indonesia tanpa seorang Tan Malaka. Orang orang lebih memuja Soekarno Hatta daripada seorang Tan Malaka. Mereka lebih sering berziarah ke Kalibata daripada ke makam seorang perintis kemerdekaan yang makamnya jauh di pedalaman Desa. Tan Malaka pulalah yang mendorong tokoh pemuda sekaligus pengagumnya, Sukarni agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan. Sahabat dekat Jendral Soedirman yang berpikiran sama menginginkan Indonesia merdeka 100% dan melawan penjajah tanpa kompromi. Dan Beliaulah yang pertama kali mencetuskan konsep Republik Indonesia lewat Naar de Republiek yang kemudian menjadi pedoman Soekarno Hatta dkk, bahkan mahakarya WR. Soepratman “Indonesia Raya” terinspirasi dari buku Tan Malaka yang berjudul Massa Actie (aksi Massa), yang juga karena kedapatan membaca dan menyimpan buku ini Soekarno dipenjara lebih berat.
 
Perjalanan mengenai pahlawan asal Desa Pandan Gadang tidak jauh dari Suliki, Minangkabau, Sumatera Utara itu belum banyak diungkap secara luas. Begitu hebatnya era orde baru mengkebiri sejarah mengenai Tan Malaka yang gugur secara mengenaskan di tangan bangsa sendiri, Dia ditembak atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi Brawijaya. Soekotjo terakhir berpangkat brigadir jenderal dan pernah menjadi Walikota Surabaya, yang kemudian meninggal pada tahun 1980-an. Bahkan saya pribadi tidak pernah menjumpai nama Beliau dalam pelajaran sejarah semasa sekolah, guru guru sejarah saya pun juga tak pernah menyinggung nama Beliau. Entah karea tidak ada dalam kurikulum atau memang karena guru guru sejarah saya saat itu tak punya keberanian untuk mengungkapkan kebenaran, atau mungkin memang karena peran guru guru mengajar hanya sebagai mata pencaharian untuk mendapatkan penghasilan, bukan sebagai panggilan untuk mencerdaskan bangsa. Bahkan cukup menyedihkan ketika beberapa waktu yang lalu saya diundang anak anak mahasiswa Universitas PTN ternama di Malang yang dengan terang terangan memberi label komunis juga PKI terhadap sosok Beliau.
 
Nggak ada yang salah dari generasi yang lahir di era orde baru apabila kurang mengenal tentang sosok Tan Malaka, ini karena peran orde baru yang begitu kuat dalam memberikan stempel atheis, kiri, komunis dan PKI pada pribadi Tan Malaka. Hanya saja tidak banyak generasi yang lahir di era orde baru untuk lepas dari kebodohan atau bangkit melawan ketakutan mereka untuk lebih mendalami kebenaran sejarah bangsa. Untuk itu perlunya kita merawat ingatan dalam sebuah gerakan melawan lupa. Cukup sudah kita terdiam memendam ketakutan, saatnya kita bangkit dengan menyuarakan kebenaran.
 
Semua tuduhan terhadap Tan Malaka adalah keliru dan sangat mudah kita mentahkan. Sejak usia 16 tahun Beliau telah menjadi salah seorang hafidz Quran. Pada tahun 1920, belum genap 24 tahun usianya saat itu, Tan sudah menjadi figur prominen di antara kelompok-kelompok kiri setempat. Ia diajukan sebagai kandidat Volksraad atau parlemen di Sumatra Timur. Namun, ia memilih bergelut di antara pergerakan serta pikiran sosialis tak lain karena kepenatannya dengan penindasan terhadap sesamanya di perkebunan-perkebunan Eropa. Lagi pula, apa lagi yang menyediakan perkakas analisis untuk mengungkap praktik eksploitasi oleh Belanda saat itu? Apa yang menyediakannya kesempatan untuk menyuarakan keadilan?
 
Tan pun tak pernah menjadi seorang komunis belaka. Dalam kongres keempat Komintern pada 1922, Tan mengkritik haluan Komintern yang saat itu mengambil pendirian antagonistis terhadap Pan-Islamisme. Sarekat Islam, baginya, dapat menjadi gerakan yang mengembalikan kekuatan kepada para petani yang melarat di bawah kapitalisme kolonial. Islam dapat menjadi kekuatan yang mengembalikan apa yang seharusnya dimiliki orang-orang papa. Tan sendiri, di hadapan sidang tersebut, tak menampik bahwa dirinya adalah seorang Muslim. "Ya, saya katakan,” ujarnya, "ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim.”
 
Tan, jelas, tidak memperlakukan komunisme sebagai satu ideologi. Ia adalah metode. Satu alat berpikir sistematis untuk membedah realitas dan menganalisis bagaimana seyogianya pergerakan digulirkan, pembagian wewenang dilangsungkan, dan pengorganisasian kerja ditata. Ia menggunakannya ketika harus mengkritik Sukarno dan partainya terlalu disibukkan dengan memikat rakyat dengan kata-kata, "grande-eloquence,” dan kehilangan pijakan bagaimana mengorganisir serta mendisiplinkan mereka. Dan, tentu saja, ia menggunakannya untuk menggerakkan orang-orang agar mau berdiri di hadapan kolonialisme Eropa saat itu.
 
Hampir sepanjang hidupnya Tan Malaka berkelana dari satu negeri ke negeri lain. Rusia yang menguat menjadi Uni Sovyet pernah disinggahinya. Di sana Tan menjadi anggota dari Komunis Internasional (komintern). Jika banyak kaum komunis tunduk pada Joseph Stalin sebagai penguasa Uni Sovyet, Tan dikenal sebagai tokoh komunis Indonesia yang berani berbeda dengan Stalin. Ia kemudian dikeluarkan dari Komintern dan dikenal sebagai pemikir yang dicap Trotskys. Setelah ke Rusia, Tan hidup berkelana dengan identitas lain ke Tiongkok, Filipina, dan daerah lain, demi menghindari kejaran aparat kolonial. Tan baru kembali ke Indonesia pada 1942. Ketika itu Hindia Belanda sudah ditekuk kekuasaannya oleh balatentara Jepang. Tan tentu merasa aman dari kejaran aparat kolonial yang sudah tiarap sepanjang Perang Pasifik
Ketika Tan Malaka sudah kembali ke tanah airnya dan Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, ternyata Indonesia belum benar-benar bebas dari Belanda. Ia merasa para pemimpin negara baru ini, yaitu Soekarno, Hatta, dan Sjahrir terlalu lembek terhadap Belanda yang masih terus berusaha menguasai Indonesia. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan dengan adanya proklamasi itu sudah diraih sepenuhnya, jadi tidak perlu melakukan perundingan apapun dengan Belanda. Ia khawatir perjanjian-perjanjian seperti Linggarjati dan Renville justru merugikan Indonesia nantinya.
 
Tan Malaka akhirnya tetap berkeliling dan berjuang mengusir Belanda yang mencoba kembali menyusup ke Indonesia. Beliau pantang berdiplomasi dengan pihak manapun. Baginya, “Tuan rumah tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya,” Ia juga mendirikan perkumpulan beranggotakan masyarakat yang kecewa terhadap pemerintah Indonesia yang lebih memilih jalur perundingan, padahal masyarakat menilai bahwa Indonesia seharusnya telah merdeka. Pihak pemerintah yang berusaha menekan konflik merasa kerepotan dengan ulah Tan Malaka yang berusaha mempertahankan kemerdekaan ini sehingga ia ditangkap dan dipenjara.
 
Setelah keluar dari penjara, ternyata apa yang ia khawatirkan tentang hasil perundingan tersebut benar-benar terjadi dengan isi perjanjian Renville yang hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta dan Sumatera sebagai wilayah Republik Indonesia. Tan Malaka yang jengkel kembali melakukan gerakan-gerakan untuk menentang hal ini. Tapi sekali lagi ia malah dianggap pembuat onar, dan kemudian harus gugur karena intrik busuk bangsa sendiri.

Dalam catatan sejarah pergerakan nasional (1908-1945) ideologi komunis memang menjadi salah satu aliran yang berpengaruh dalam usaha-usaha memerdekaan Hindia Belanda dari tangan pemerintahan kolonial. Ideologi Komunis di Indonesia yang berasal baik dari hasil fikir Marx yang diperoleh dari bacaan atas karya-karya Marx atau dari kekaguman terhadap pemikiran Lenin yang diambil dari pola gerakan Bolshevik di Rusia, berkembang pesat dan menjadi motor sejarah pergerakan selain ideologi nasionalis dan Islam. Perkembangan ideologi komunis yang pesat di latar belakangi cara pandang komunisme yang menganggap penjajahan pihak Belanda merupakan kelas borjuis terhadap bangsa Indonesia yang sebagian besar kelas proletar dan harus memperjuangkan kepentingan kelasnya dalam menghadapi kapitalisme Belanda.
 
Perkembangan ideologi komunis dalam masa pergerakan nasional juga tidak dapat dilepaskan dari pada tokoh-tokoh yang aktif menggalang kekuatan massa dan propaganda-propaganda mengenai kelas-kelas sosial. Awalnya, ideologi komunis dibawa oleh Sneevlit, seorang agen Komitern (Komunis Internasional). Sneevlit lantas mendirikan ISDV (Indische Social Democratishce Veregining) dan lantas mengirim anggotanya yang bersifat radikal untuk menginfliltrasi ke dalam tubuh SI. Selain itu, Sneevlit juga mendirikan VSTP (Veereniging van Spoor-en Tramwegpersonel) sebuah organisasi buruh kereta api. Selain Sneevlit, ada Semaun, seorang tokoh radikal yang menginfiltrasi SI dan mampu menjadi ketua SI cabang Semarang dan menjadi salah satu pendiri Partai Komunis Indonesia.
 
Gerakan kiri dalam sejarah pergerakan nasional nyatanya menjadi satu ruh bagi radikalisasi pergerakan nasional yang pada periode awal abad ke-20 dianggap tumpul. Sebelum muncul gerakan kiri, keinginan untuk mengusir penjajahan Belanda praktis hanya diwakili oleh Indische Partij, itupun dapat dikatakan gerakan kiri jika mengacu pada Douwes Dekker yang seorang sosialis-demokrat. Radikalisasi masa pergerakan nasional memang tidak dapat terlepas dari gerakan kiri yang saya sebut diatas hingga mampu menciptakan mitos Hantu Merah bagi pemerintah kolonial Hindia Belanda.
 
Tan Malaka menganut ideologi komunis sebagai dampak kekaguman terhadap Revolusi Oktober di Rusia dan kegemarannya membaca literatur Marxis setelah itu. Tetapi alur perjuangan dan pemikiran Tan Malaka selanjutnya banyak memunculkan konfrontasi antara Tan dengan organisasi komunis yang ada. Selisih pemikiran Tan dengan tokoh-tokoh komunis bukan hanya terhadap gerakan Komunis Indonesia, namun juga dengan tokoh dan organisasi Komunis Internasional (Komitern). Konfrontasi yang terjadi ini akibat perbedaan pemikiran Tan Malaka dengan tokoh-tokoh komunis demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa di Indonesia dari tangan kolonialisme Belanda.
 
Banyak masyarakat yang menganggap bahwa Tan Malaka merupakan pengkhianat karena membela atau memiliki ideologi yang sama dengan Partai Komunis Indonesia (Partai yang pada zaman Orde Baru sangat dimusuhi dan ideologinya dilarang untuk disebarkan). Namun ternyata disisi lain, bagi pihak komunis Tan Malaka pun dianggap seorang pengkhianat, bahkan beberapa tokoh komunis Indonesia seperti Musso bersumpah akan membunuh Tan Malaka karena dianggap tidak mendukung pemberontakan PKI 1926. Konfrontasi pemikiran Antara Tan Malaka dengan Organisasi Komunis terjadi bukan karena ada perbedaan ideologi, namun lebih kepada perbedaan penafsiran tentang cara-cara menerapkan pokok-pokok pikiran Marx di Indonesia dan cara-cara untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Konfrontasi ini menunjukkan bahwa Tan Malaka sebenarnya merupakan seorang nasionalis tulen yang selalu mementingkan kepentingan bangsanya diatas kepentingan organisasi (partai) maupun ideologi.
 
Tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir. Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan sangat baik. Jadi kita pecah, dengan alasan itu menurut Tan Malaka, perjuangan antara komunisme dan Pan-Islamisme tidak perlu dipertentangkan. Karena tujuan Pan Islamisme sekarang ini di Indonesia merupakan perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia. Tujuan yang sama dengan apa yang diperjuangkan oleh para pengikut paham Komunisme.
 
Pada November 1922, Kongres keempat Komunis Internasional diadakan. Dalam Kongres ini Tan Malaka diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya menyoal pertentangan komunis dengan gerakan Islam. Menurut Lenin dalam kongres Komitern yang kedua yang menghasilkan draf "Perjuangan melawan Pan Islamisme", organisasi Islam menghambat gerakan komunis di berbagai negara, sehingga hubungan antara Islam dan Komunis tidak dapat dipertahankan lagi. Hal ini lah yang ditentang oleh Tan Malaka. Saat diberi kesempatan untuk memberikan pendapat, Tan Malaka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membela persatuan Komunis dengan gerakan Islam.
 
Menurut Tan persatuan organisasi komunis dengan gerakan Islam di Jawa memiliki sebuah kesamaan yaitu perjuangan melawan kapitasilme Internasional. Bahwa di Jawa, pergumulan Komunisme dengan Sarekat Islam telah mampu memperoleh massa dan melakukan propaganda di dalamnya. Sarekat Islam melakukan agitasi ke pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: "Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar". Ini menunjukkan bahwa Sarekat Islam memiliki propaganda yang sama dengan Partai Komunis, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.
 
 
 
Empat belas tahun setelah kematiannya, tepatnya pada 28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat nama Tan Malaka sebagai pahlawan nasional Indonesia. Namun 3 tahun kemudian, setelah Soekarno turun dari jabatan presiden (1966) dan digantikan oleh era Orde Baru. Nama Tan Malaka kembali disembunyikan dari sejarah Indonesia, dan bahkantidak pernah disebutkan dalam daftar nama-nama pahlawan nasional di sekolah seluruh penjuru Indonesia selama puluhan tahun bahkan mungkin sampai sekarang. Penyebabnya? Apalagi kalau bukan keterlibatan Tan Malaka yang sangat kental dengan gerakan kiri, sosialis, atau komunis yang menjadi musuh besar pada era pemerintahan Orde Baru.
 

Saya bertanggung jawab dengan semua tulisan tulisan saya
Bagus Rochadi


Selopanggung, 25 agustus 2017

Monday, August 21, 2017

MUNGKIN ESOK


Dan apabila ini adalah terakhir kalinya aku melihat senja, sedangkan aku masih tak pernah tahu di di dunia mana engkau berada. Aku berharap alunan rindu yang pernah ada adalah hal termanis yang pernah aku punya.

Rindulah yang selalu membuatku tetap terjaga, menumbuhkan harapan menjadi doa doa. Rindu pula yang melipurkan lara, meski aku asing bagi semesta.

Maaf bilamana esok tak lagi aku bisa melantunkan doa, semoga itu adalah pertanda kita akan kembali bersua.

Thursday, June 22, 2017

MUI DAN SERTIFIKASI HALAL

Pertama tama sebagai umat Muslim dan penggemar kuliner berbentuk mie tentunya saya mengucapkan terima kasih atas rilis BPOM yang menyatakan bahwa dua produk mie Samyang U-Dong dan Kimchi impor dari Korea Selatan ternyata mengandung minyak babi, dan rilis ini tentunya menjelaskan bahwa kedua produk tersebut tidak layak konsumsi bagi umat Muslim yang jumlah penduduknya mendominasi negeri ini. Bersyukur hingga saat ini saya belum pernah mengkonsumsinya. Tapi tentunya yang harusnya berterima kasih tidak hanya saya seorang, melainkan para korporasi yang bergerak pula dalam bidang usaha produksi mie instant. Oplah persaingan pasar mereka tentunya hingga saat ini tidak (baca belum) terganggu dengan kehadiran produk produk import yang masih terkendala label "HALAL"

Hal yang membuat saya tergelitik untuk menulis adalah mengenai peran MUI yang notabene sebagai satu satunya lembaga yang berhak mengeluarkan sertifikasi halal. Hingga saat ini saya masih bingung akan status kelembagaan MUI. Bagaimana bisa sebuah lembaga warisan orde baru yang cenderung otokrasi memiliki hak untuk penarikan terhadap uang dari masyarakat yang mengurusi sertifikasi halal. MUI ini sebenarnya organisasi negeri apa swasta?

Masa berlaku sertifikasi halal adalah 3 tahun, dan harus mulai mengurus perpanjangan sejak 6 bulan sebelum masa berlakunya habis. Jadi, dalam lima tahun, pengusaha harus dua kali mengurus surat halal. Sekali pengurusan biayanya sebesar Rp 6 juta, sehingga bila ditotalkan bisa mencapai 12 juta dalam lima tahun. Apabila angka ini dikalikan dengan 40 juta pengusaha, maka hasil yang ditarik dari masyarakat dalam lima tahun mencapai Rp480 triliun. Jumlah yang cukup fantastis bukan...??

Saya menulis bukan karena menolak keberadaan MUI, saya hanya berharap agar MUI yang konon katanya adalah diwakili para ulama bersedia dengan besar hati untuk melakukan audit publik. Jangan sampailah sebuah lembaga keagamaan yang harusnya ngurusi kemashlatan umat malah menjadi organisasi komersil yang berada di balik kepentingan kepentingan duniawi. Dan yang tidak kalah penting, Pemerintah harusnya lebih tegas dalam memperjelas status MUI. Apakah ini lembaga negeri atau organisasi swasta?

sek sek, saya kok baru kepikiran klo Miras itu haraml. Tapi kenapa MUI tidak berusaha mendesak Pemerintah agar miras tidak boleh beredar di Indonesia? Harusnya MUI memaksa agar Pemerintah menutup pabrik pabrik miras, trus ini kemana Umat Islam bersatu kemarin ya? masalah penistaan agama ribut ribut kenceng, ini masalah barang haram beredar dari dulu sampe sekarang kok diem aja? Atau mungkin pandangan MUI berbeda tentang Miras, jadi mereka menganggap miras itu halal dan karena itu dibiarkan saja beredar sampai sekarang?

Saya sebagai seorang Muslim, bukan berarti membenci MUI atau mau menistakan para ulama. Saya berharap umat Muslim memberi contoh dan teladan pertama agar negeri ini menjadi lebih baik lagi. Saya suka sedih apabila ada yang mengepalkan tangan dan mengucapkan takbir dengan suara lantang. Mari sama sama menjadi agen Muslim, dan memberi pengertian bahwa Islam adalah agama yang santun.

 Bagus Rochadi


Batu, 27 Ramadhan 1438 Hijriah

Wednesday, June 21, 2017

SAFARI RAMADHAN PAK BeYe

Melihat beberapa media sosial dan media cetak juga media elektronik menjelang akhir ramadhan ini banyak sekali dipenuhi safari ramadhan. Hal yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun adalah dengan mengundang anak anak yatim piatu dan juga masyarakat ekonomi rendah untuk diberikan santunan, seakan akan anak anak yatim tersebut adalah sebuah objek menarik pada setiap bulan Ramadhan.

Bahkan saya merasa miris ketika seorang mantan presiden bersama keluarganya tak ketinggalan pula untuk turut memberikan santunan di salah satu hotel mewah di kota Malang, mendapat space utama di salah satu media nasional yang saya baca hari ini. Tentunya media akan mengaitkan safari Ramadhan Beliau bersama Partai Politik yang didirikan oleh Beliau, apalagi putra sulungnya yang kemarin berhasil nyalon gubernur di Ibukota turut pula hadir dan meneriakkan nama partainya.
 

Menurut penilaian saya, seorang mantan pucuk pimpinan negeri kita ndak panteslah melakukan giat sosialnya di sebuah hotel mewah, mungkin kalau bertandang langsung ke panti asuhan masihlah etis. Ditambah pula ada bendera partai disana, bukankah ini tidak mampu memberikan teladan bagi anak anak bangsa. Saya tahu, segala gerak gerik Pak Beye masihlah menjadi objek menarik bagi awak media. Namun apabila Pak Beye mampu menghabiskan masa pensiunnya terlepas dari dunia politik, dan lebih banyak berkecimpung dalam dunia sosial dan pendidikan tentunya Beliau tetap memiliki wibawa di mata anak anak muda.
 

Mungkin Pak Beye perlu juga belajar zuhud dari seorang Buya Syafii Maarif, seorang Profesor Doktor lulusan Ohio State dan Chichago State Amerika yang lebih memilih mengajar dan menulis. Mantan Guru besar IKIP Jogja dan Ketua Umum Muhammadiyah ini pun juga tak segan segan menolak tawaran komisaris beberapa BUMN. Beginilah seharusnya seorang Bapak Bangsa dalam menghabiskan masa tuanya, mendedikasikan sisa hidupnya untuk pendidikan dan jauh dari hingar bingar politik. Semoga apa yang dilakukan Pak Beye dan keluarganya kemarin bukanlah sebuah pencitraan atau safari politik, semoga benar benar safari Ramadhan yang menjadi amalan baik Beliau. Amin…



Salam Jumat Ramadhan

Tuesday, June 20, 2017

AHOK DAN KORUPSI

Saya bukan warga DKI, dan nggak ada kepentingan apapun terhadap Jakarta. Namun saya cukup sedih bahwa pelaku korupsi di negeri ini masih di puji, sedangkan orang yang nyata nyata membangun negeri seperti Dahlan Iskan atau Ahok harus mendekam di balik jeruji oleh sebuah fitnah keji.

Teruntuk khusus bagi Ahok, banyak sekali kepentingan yang menjerat Beliau. Kasus yang paling segar sebelum Beliau berada di balik jeruji adalah mengenai dana e-KTP yang juga menjerat 50 orang anggota DPR RI komisi II pada periode 2009-2014,dengan rinciannya, 13 orang dari Fraksi Demokrat, 10 orang dari Fraksi Golkar, 8 orang dari Fraksi PDI-P, 4 orang dari Fraksi PAN, 3 orang dari Fraksi PPP. Kemudian, 3 orang dari Fraksi PKB, 2 orang dari Fraksi Gerindra dan 2 orang dari Fraksi PAN.
 

Pada kesaksian Nazzarudin, ia bersaksi bahwa diantara nama besar, ada satu orang yang menolak keras rencana proyek KTP elektronik ini. Lalu ketika Proyek ini gol, tak satu senpun uang proyek diterima oleh orang itu. Dan orang tersebut adalah Basuki Tjahaja Purnama.Jadi dari kasus e-ktp, Ahok adalah satu satunya yang menolak dan tidak menerima uang suap e-ktp.

Bahkan fakta unik muncul dalam persidangan, Jaksa penuntut umum hanya mengajukan tuntutan satu tahun penjara dan dua tahun masa percobaan. Akan tetapi majelis hakim menjatuhkan vonis 2 tahun penjara dan memerintahkan penahanan. Hal yang jarang jarang terjadi dalam pengadilan di Indonesia. Namun fakta fakta yang telah terjadi membuka mata kita semua bahwa bangsa ini sudah lama merdeka namun belum sepenuhnya memiliki keadilan.

Di Indonesia ternyata lebih berbahaya salah ngomong daripada korupsi. Para pelaku korupsi usai bebas dari tahanan juga masih mampu tertawa ceria dengan hartanya yang masih bisa dinikmati sampai beberapa generasi.

Saya jadi teringat akan sebuah buku yang  pernah saya baca, bahwasannya Proklamator kita berkata "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri,”

Saya pribadi sebagai umat Muslim, dari awal tidak setuju apabila Ahok harus dihukum dengan mendekam dibalik jeruji. Agama saya tidak mengajarkan kebencian, bahkan Islam yang saya ketahui mengajarkan tentang bagaimana kita memaafkan orang orang yang zalim. Saya juga tidak menutup mata, banyak hal positif yang telah dilakukan Ahok teruntuk Jakarta, dan juga teruntuk Indonesia. Aku juga semakin menyadari bahwa Ahok dibenci bukan karena ucapannya, akan tetapi karena Beliau non muslim dan keturunan etnis China.


Batu, 10 mei 2017


Bagus Rochadi

Saturday, June 10, 2017

JALAN PULANG


Pada sebuah subuh di pertengahan Ramadhan, manakala bulan masih enggan beranjak. Redup sinarnya menggugah kembali jejak jejak yang terserak.

Aku merasa damai manakala sering sendiri menyepi, mendekat pada sang Ilahi, dan melupakan segala macam ambisi. Aku mencoba kembali merenungi perjalananku di masa silam, begitu banyak hati manusia yang aku tikam, begitu jauh aku tersesat pada selubung malam.

Tuhan, beri aku waktu untuk kembali meraih Ridha - Mu
Beri aku kesempatan untuk menjumpai mereka yang pernah aku sakiti dan memohon maaf atas apa yang telah terjadi, atas setiap inci luka yang pernah aku tanam pada setiap hati. Biarlah penyesalan ini kubawa hingga detak nadiku berhenti

Bagus Rochadi. Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "