Friday, June 15, 2018

BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI



Terkadang aku lebih memilih sendirian. Merenungkan ulang tentang alur perjalanan. Tentang bagaimana aku menjalani kehidupan. Tentang masa lalu yang semakin jauh aku tinggalkan dan tentang perjalananku yang kian mendekati kematian.

Terkadang segelas kopi bagiku adalah teman terbaik bersama sepi. Menemaniku menulis tentang kegelisahan, kerinduan, cinta, bait bait puisi-puisi tentang luasnya semesta dan maha besar sang pencipta.

Terkadang aku merenungkan tentang mereka yang datang dan pergi, silih berganti. Tak seorang pun yang tahu siapa yang akan datang hari ini dan kapan akan pergi. Hanya yang aku tahu, tak semua yang pergi akan berpulang kembali. Sebagaian saja dari mereka yang kemudian bersemayam jauh di relung hati.

Terkadang aku begitu suka berbaring sembari memandang bintang bintang yang bertebaran. Kuterbangkan angan hingga jauh ke batas pandang. Melukis wajah mereka yang aku rindukan pada gugusan gususan lintang. Dan ketika aku jatuh terlelap, berharap senyum mereka yang aku rindukan, dapat hadir dalam untaian mimpi mimpi.

Aku berusaha menjauhi kerumunan, dimana yang ada hanya kemunafikan. Aku berusaha erat memeluk sepi, karena ini caraku berdamai dengan diri sendiri. Mengisi kekosongan batinku dan berdialog dengan Ilahi

Aku yang dulu pernah pongah melawan zaman, kini takzim pada takdir Tuhan. Hidup terkadang terlalu rumit untuk dimengerti, akan tetapi terkadang hidup itu cukup sederhana untuk dipahami. Bukan kesepian yang mematikan, melainkan kebosanan.

Selamat tinggal Ramadhan 1439
Taqobbalallahu minna wa minkum
Barakallahu Fiikum
Selamat merayakan Idul Fitri.

Thursday, May 17, 2018

PILIHAN JALAN HIDUP

Kebenaran itu esa, dan sejarah tak mungkin dapat diperbaiki atau diulang kembali. Kita hanya mampu belajar dari sejarah yang acap kali memiliki pola yang sama.

Kita tak pernah tahu bagaimana Tuhan menyayangi kita. Dia yang menyesatkan, akan tetapi Dia pula yang memberi petunjuk. Dia yang merendahkan, akan tetapi dia pula yang meninggikan. Tuhan tetaplah maha pengasih dan maha penyayang. Rahmad terbaik dari sang pencipta, adalah Dia senantiasa memberikan hidayah, Dia memberikan kita keberanian untuk mampu membedakan mana yang haq (kebenaran) dan mana yang batil. Karena tidak semua orang berani menyampaikan kebenaran, apalagi jika membahayakan diri ataupun keluarganya.

Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Tan Malaka; "Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri." Beliau adalah seorang pejuang kemerdekaan sesungguhnya. Beliau tidak mau berkompromi, apalagi sampai berunding dengan penjajah. Bahkan Beliau adalah seorang hafidz Quran, akan tetapi akhir hayat Beliau sungguh mengenaskan, mati oleh senapan bangsa sendiri. Bahkan pada 23 maret 1963, sang proklamator menetapkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 53 Tahun 1963 melalui usulan Partai Murba. Namun entah kenapa nama Tan Malaka seolah lenyap ketika rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto berkuasa. Bahkan hak-haknya sebagai pahlawan nasional tidak pernah dipenuhi. Namanya tidak pernah muncul dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Buku-buku karya Beliau pun dicekal. Bahkan hingga kini, tidak sedikit yang mengenal Beliau sebagai komunis.

Aku belajar tentang bagaimana makna teman dan pengkhianatan. Sejarah beberapa kali mengulang pola, bahwa pengkhianat perjuangan adalah teman atau saudaramu sendiri. Hati hati dengan orang yang pernah tertawa bersama kita, karena kita tak pernah tahu bagaimana ketulusannya akan berlangsung lama. Tak perlu kita menjelaskan sebagaimana diri kita, cukuplah Tuhan saja yang memahami dan hanya pada Dia kita menyerahkan hidup dan mati kita.

Jangan pernah berhenti memperjuangkan kebenaran. Mungkin bagi sebagaian orang, hari pembalasan itu masih abstrak. Lucu sebenarnya, kita hidup di Negara beragama yang sejak masa pendidikan dasar kita senantiasa diajarkan tentang pendidikan agama, akan tetapi tidak semua orang beriman. Orang Indonesia lebih takut dipenjara, daripada masuk neraka. Kenapa begitu? karena penjara itu nyata nyata bisa kita saksikan melalui logika, sedangkan neraka?

Meskipun demikian, aku ingin berjiwa besar seperti seorang Buya Hamka. Bagaimana Beliau tidak memiliki dendam terhadap presiden pertama Republik Indonesia yang menjebloskannya ke penjara. Bahkan pada kematian Soekarno, Buya Hamka yang menjadi Imam shalat jenazahnya, sesuai permintaan terakhir sang proklamator sendiri. Bahkan tidak berhenti disana, Buya Hamka puntak berhenti menyanjung jasa Presiden Soekarno terhadap apa yang diwariskan pada bangsa kita. Di antara peninggalan Soekarno yang dianggap penting bagi umat Islam adalah, Masjid Baitul Rahim yang berada di Istana Negara dan Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara. Buya Hamka mendoakan jasa sang proklamator atas kedua masjid tersebut dapat meringankan dosa dosa sang proklamator semasa hidupnya.

Kita tak pernah bisa memilih lahir dimana dan dari rahim siapa, setidaknya kita masih bisa memilih mati sebagai apa. Dalam sajaknya, Chairil Anwar mengatakan; "Jangan mau jadi pengecut, hidup sekali harus berarti. Ada yang berubah, Ada yang bertahan. Karena zaman tak bisa dilawan. Yang pasti, kepercayaan harus diperjuangkan."

Terima kasih buat seseorang yang telah melaporkan saya ke polisi hari ini atas tulisan tulisan saya yang beredar di media sosial. Perlu anda ketahui, saya tidak akan pernah berhenti menulis ataupun meneriakkan kegelisahan kegelisahan saya terhadap gejolak sosial yang saya rasakan. Insha Allah saya tidak akan pernah berhenti melawan kezaliman. Dan Insha Allah saya tidak pernah membenci anda. Saya sebagai seorang Muslim memaafkan apa yang telah anda lakukan. Seperti yang saya tuliskan dalam paragraf awal, kebenaran itu esa dan hanya milik yang maha kuasa. Karena hanya Tuhan yang memahami hati masing masing ciptaannya. Semoga Allah senantiasa memberikan kita hidayah, dan menutup akhir kehidupan kita dengan qusnul qotimah.



Salam Ramadhan 

Bagus Rochadi, 1 Ramadhan 1439

Saturday, March 10, 2018

JALAN PEDANG

Bushido

Bushido berarti ‘jalan ksatria’ atau bisa disebut juga etika moral bagi kaum ksatria. Ada beberapa yang menyebutkan sebagai jalan pedang ata jalan samurai. Makna secara umum dari Bushido adalah sikap rela berkorban bagi pemimpin atau negara. Yang kemudian diperluas dan diformalkan sebagai kode awal samurai dan menekankan pada penghematan, kesetiaan, penguasaan bela diri, dan kehormatan sampai mati. Bushido juga mencakup belas kasih bagi mereka dar status yang lebih rendah untuk pelestarian nama.
Awalnya Bushido berwujud literatur lebih lanjut dalam memberlakukan persyaratan untuk melakukan diri dengan ketenangan, keadilan, dan kepatutan.bagian lain dari filsafat bushido adalah mencakup bagaimana metode membesarkan anak, penampilan, dan perawatan. Namun semua itu juga dapat dilihat sebagai dari persiapan konstan seseorang menuju kematian yang baik dengan kehormatan yang utuh. 
Aspek spiritual sangat dominan dalam falsafah bushido, seorang samurai memang menekankan kemenangan terhadap pihak lawan, tetapi tidak berarti dengan kekuatan fisik. Dalam semangat bushido, seorang samurai diharapkan mampu menjalani pelatihan spiritual guna menaklukan dirinya sendiri, karena dengan menaklukan dirinya sendirilah samurai dapat mengalahkan orang lain.

Jika dilihat dari sumbernya, nilai bushido berasal dari ajaran budhisme dan shintoisme. Dimana terdapat perasaan percaya, tenang terhadap nasib, pasrah terhadap hal-hal yang tak terelakan serta kesetiaan terhadap kaisar. Juga tidak ada konsep Sang Pencipta dan konsep dosa sehingga mati bunuh diri tidak ada sangkut pautnya dengan nilai norma doktrinat agama, yang ada hanya konsep karma dimana “perbuatan yang baik akan berakibat baik pula”.
Bushido telah terimplementasikan dengan baik dan sudah menjadi sistem kepribadian masyarakat Jepang, nilai-nilai tersebut yaitu :
 



·           Gi ( integritas)
Senantiasa mempertahankan etika, moralitas dan kebenaran. Integritas merupakan nilai bushido yang paling utama. Kata integritas mengandung arti keutuhan meliputi seluruh aspek kehidupan, terutama antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Nilai ini sangat dijunjung tinggi dalam falsafah bushido dan merupakan dasar untuk mengerti tentang moral dan etika sertta menjalankannya secara utuh dan menyeluruh. Integritas bisa diartikan kesempurnaan, kesatuan, keterpaduan atau ketulusan. Semua arti kata itu tepat sekali mendukung pembentukan sosok pribadi manusia sesuai yang diharapkan yaitu manusia “paripurna” atau secara sederhana ialah manusia yang penuh dengan kemuliaan.
Integritas seringkali ditujukan pada orang yang dianggap sudah baik secara mental maupun spiritual. Karena itu kata integritas melekat pada pribadi orang-orang yang “arif dan bijaksana” yang dalam kehidupan kesehariannya mampu menjadi sosok manusia panutan dan sebagai teladan. Bagi seoarang pemimpin, integritas merupakan hal yang utama. Karena integritas adalah kualitas paling vital yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

·           Yu (keberanian)
Keberanian merupakan asset yang berharga bagi siapapun yang hidup di dunia ini. Tanpa keberanian seseorang tidak akan menjadi siapa-siapa dan tidak akan meraih kesuksesan. Keberanian bias menjadikan sesuatu yang dianggap mustahil menjadi kenyataan. Keberanian memungkinkan seseorang untuk keluar dari kesulitan dan bahkan berhasil meraih kesuksesan.
Seseorang yang batinnya memang pemberani akan menunjukan loyalitas dan kasih sayang pada pimpinan dan orangtua. Mereka juga mempunyai kesabaran, sikap toleran, serta menghargai apa saja. Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seseorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri atau nafsunya sewaktu marah.

·           Jin ( Murah Hati)
Mencintai sesama, kasih saying dan simpati. Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin (yin) dan feminine (yang). Jin mewakili sifat feminine. Meski berlatih ilmu pedang dan strategi perang, para samurai harus memiliki sifat pengasih dan peduli pasa sesame manusia. Sikap ini harus tetap ditunjukkan baik di siang hari yang terang benderang, maupun di kegelapan malam. Kemurahan hati juga ditunjukkan dalam hal memaafkan. Mencintai sesama, kasih saying dan simpati. Bushido memiliki aspek keseimbangan antara maskulin (yin) dan feminine (yang). Jin mewakili sifat feminine. Meski berlatih ilmu pedang dan strategi perang, para samurai harus memiliki sifat pengasih dan peduli pasa sesame manusia. Sikap ini harus tetap ditunjukkan baik di siang hari yang terang benderang, maupun di kegelapan malam. Kemurahan hati juga ditunjukkan dalam hal memaafkan.

       Rei (Hormat dan Santun Kepada orang lain)
Bersikap santun dan hormat pada orang lain. Ksatria tidak pernah bersikap kasar dan ceroboh, namun senantiasa menggunakan kode etiknya secara sempurna sepanjang waktu. Sikap santun dan hormat tidak saja ditujukan pada pimpinan dan orang tua, namun kepada tamu atau siapa pun yang ditemui. Sikap santun meliputi cara duduk, berbicara, bahkan dlam memperlakukan benda ataupun senjata. Hingga saat ini kesantunan para samurai masih terlihat pada cara orang jepang menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.

·          Makoto – Shin (Kejujuran dan tulus ikhlas)
Samurai mengatakan apa yang mereka maksudkan, dan melakukan apa yang mereka katakan. Mereka membuat janji dan berani menepatinya. Jujur dan tulus ikhlas merupakan kode etik samurai yang berarti berkata atau memberikan suatu informasi yang sesuai kenyataan dan kebenaran. Para ksatria harus menjaga ucapannya dan selalu waspada tidak menggunjing, bahkan saat melihat atau mendengar hal-hal buruk tentang siapapun.
·           Meiyo ( menjaga nama baik dan kehormatan)
Samurai akan menghormati etika,bukan talenta. Dan mereka menghormati perbuatan, bukan pengetahuan. Salah satu cara mereka menjaga kehormatan adalah tidak menyia-nyiakan waktu dan menghindari perilaku yang tidak berguna. Jika anda di depan publik, meski tidak bertugas, kau tidak boleh sembarangan bersantai. Lebih baik kau membaca, berlatih kaligrafi, mengkaji sejarah, atau tata krama keprajuritan.

·           Chugo (kesetiaan pada pemimpin)
Kesetiaan ditunjukkan dengan dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas. Kesetiaan seorang ksatria tidak saja saat pimpinannya dalam keadaan sukses dan berkembang. Bahkan dalam keadaan sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, pimpinan mengalami banyak beban permasalahan, seorang ksatria tetap setia pada pimpinannya dan tidak meninggalkannya. Puncak kehormatan seorang samurai adalah mati dalam menjalankan tugas dan perjuangan. Seperti sabda Rasulullah “engkau tetap harus setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun ia memukul punggungmu atau mengambil haratamu, maka tetaplah untuk setia mendengar dan taat”.

·           Tei ( peduli)
Tak peduli seberapa banyak kau menanamkan loyalitas dan kewajiban keluarga di dalam hati, tanpa perilaku baik untuk mengekspresikan rasa hormat dan peduli pada pimpinan da orang tua, maka kau tidak bisa dikatakan sudah menghargai cara hidup samurai.

Tuesday, November 14, 2017

THE UNTOLD STORY



Lelaki ini banyak menginspirasi saya, seperti halnya pada sore ini. Hujan begitu lebat, akan tetapi waktu ashar tidak menghalanginya untuk pergi ke Masjid. Meskipun entah kenapa pada sore hari ini azan tak terdengar berkumandang seperti biasanya dari Masjid di seberang alun alun.

Saya mulai mengenal Beliau ketika saudari sepupu saya menikah dengannya, Mas Jono saya memanggilnya. Beliau merintis karir di salah satu bank plat merah hingga kemudian menjadi salah seorang kepala wilayah.

Dalam puncak karirnya, Beliau tiba tiba saja resign. Tak hanya saya yang bertanya tanya, kenapa tiba tiba Beliau memilih mengundurkan diri di puncak karir, padahal pensiun sudah tak lama lagi.
Meskipun saya agak segan, pada suatu hari saya memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Beliau. Dan kemudian Beliau bercerita mengenai kegelisahan mengenai #riba dan proses hidayah yang didapatkannya manakala di tanah suci. Tentang bagaimana saat itu Imam besar mengulang ulang sebuah surah dalam Al Quran mengenai riba hingga tiga kali

Masha Allah...
Saya tak mampu berkata apa apa lagi. Bagi saya Beliau adalah orang yang hebat, tak hanya dari segi ilmu dan kedisiplinan. Istiqomah Beliau untuk tetap menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya sangatlah luar biasa. Semoga Beliau senantiasa diberi kesehatan, sisa usia yang barokah, rezeki berlimpah yang halal dan tak pernah kekurangan apapun dalam hidupnya
Amin...

Monday, November 13, 2017

Perjalanan Terberat & Terjauh Seorang Muslim

Hampir seperti biasanya, aku terjaga pada sepertiga malam. Entah kenapa kali ini saat aku terjaga, aku merenungi ulang perjalanan perjalananku.

Melihat kembali foto foto travelling yang aku pamerkan di media sosialku, aku merasa begitu sedih. Sering aku dengan penuh kebanggaan memamerkan pencapaianku kemana mana, mendaki gunung atau pun menjelajah pantai pantai. akan tetapi ketika azan usai berkumandang, aku sering kali merasa enggan untuk segera menunaikan ibadah shalat lima waktu secara tepat waktu dan berjammaah. Aku masih bermalas malasan dan asyik dengan kesibukan dunia, bahkan kadang berat sekali hanya untuk sesaat beranjak meninggalkan smartphone atau laptop.

Mendengar cerita teman teman ku, harusnya aku bersyukur terlahir sebagai Muslim yang tinggal di Indonesia. Masjid dan Mushalla hampir seluruh ada di setiap pojok persimpangan. Azan pun tak pernah terlambat dikumandangkan.

Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang sahabat yang telah lama tinggal di Irlandia, sebagai salah satu negara dengan masyarakat Islam yang masih minoritas. Betapa sulitnya untuk menjaga wudhlu, selain itu untuk mendapatkan air disana tak semudah di Indonesia. Kemana mana sampai harus membawa air mineral dalam botol untuk berwudhlu kembali.

Akan tetapi dari ceritanya, Mbak Fefy Rachmat masih bersyukur bisa menjalankan ibadah shalat dengan merasa tenang dan aman meskipun Islam di negerinya masihlah minoritas dan masih ada pula yang memandangnya sebagai agama teroris. Beliau berpendapat, “Dibandingkan negeri negeri Islam seperti Palestina, Syuriah dan Negara Negara di timur tengah, kami masih dapat shalat tanpa merasa was was. Di banyak Negara Islam masih terjadi konflik senjata. Setiap hari dihadapkan pada situasi perang, bom bisa meledak kapanpun tanpa pernah bisa diduga,”

Harusnya saya merasa malu pada diri sendiri. Padahal jelas jelas saya pernah membaca Al An'am ayat 32, bahwasannya "Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?"

اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ

Betapa selama ini aku jauh terlena pada dunia, hingga ayat yang dulu pernah aku baca dan pahami tidak juga menggerakkan hatiku untuk lebih banyak beribadah. Malah aku lebih jauh tenggelam pada kesenangan semu. Atau memang aku sebagai manusia harus lebih banyak belajar pada kematian yang tak pernah dapat bersahabat dengan siapapun, datang dengan tiba tiba tanpa pernah diduga.

Aku merasa perlu untuk menuliskan ini, sebagai pengingat untuk diriku sendiri, betapa langkah ku semakin lama semakin mendekati kematian. Aku nggak ingin mengulang segala penyesalanku.

Sunday, October 1, 2017

NGOPI, ANTARA WARISAN BUDAYA DAN LIFESTYLE


Kopi akan selalu hadir dalam relasi sosial dalam tingkatan kasta apapun. Tidak bisa ditampik bahwa para pekerja pada pagi hari lazim menikmati secangkir kopi sebelum memulai aktivitas menembus kemacetan Ibukota. Kopi tidak bisa dielakkan dalam pilihan menu dan hidangan hang out di café pada sore hari. Kopi akan menjadi teman bagi insan yang mencari kekhusyukan sepertiga malam. Sepertinya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa dalam setiap relasi sosial kita, kopi mengambil tempat yang cukup intim.



Ini mengingatkan saya kepada percakapan mengenai kegiatan menikmati kopi dalam konteks relasi sosial. Apakah aktivitas menikmati kopi merupakan sebuah budaya atau gaya hidup? Contoh sederhana yang diajukan adalah kebiasaan orang dewasa di wilayah pedesaan yang menikmati kopi dalam segala macam bentuk aktivitas sosialnya, mulai dari rumah, di kebun, di pengajian, bahkan di kedai sekalipun. Kebiasaan menikmati kopi yang berlangsung turun-menurun ini sudah menjadi budaya. Sementara itu, sebagai manusia urban, kebiasaan menikmati kopi di tempat-tempat yang spesifik di wilayah ibukota lebih cenderung dinilai sebagai sebuah gaya hidup. Susah untuk mempertahankan argumentasi bahwa kegiatan ini adalah “budaya”, ketika menikmati kopi perlu dilengkapi dengan Wi-Fi gratis yang superkencang, colokan laptop yang bersliweran, dan suasana café yang cozy.

v60 Technique

Sulit mengakhiri perdebatan mengenai aktivitas menikmati kopi sebagai sebuah budaya atau gaya hidup. Habis energi hanya untuk mempertahankan bahwa tubruk itu tradisi asli, sementara espresso dan cappuccino adalah budaya asing. Relasi sosial dalam kopi tidak bisa diputus sepihak. Seolah-olah ia hanya menjadi gaya hidup kelas menengah ibukota ketika dibandrol beberapa puluh ribu rupiah per gelasnya. Atau menjadi teman rakyat kecil ketika kopi dinikmati di warung kopi selepas berkebun. Bagi saya pribadi, aktivitas menikmati kopi adalah pembebasan.

Aeropress Technique

Ada keterhubungan relasi sosial yang jelas dan tidak terputus dalam setiap cangkir kopi yang tersaji di hadapan kita. Ada harapan dari para petani kopi ketika panen tiba untuk mendapatkan penghasilan demi membiayai keluarganya. Ada kalkulasi keuntungan oleh para tengkulak ketika harga biji kopi sedang membaik. Ada penambahan pendapatan negara ketika kopi sebagai komoditas yang bisa diekspor ke luar negeri. Ada geliat usaha ketika menjamur franchise, café atau kedai kopi di banyak tempat. Ada kalkulasi risiko yang dihitung oleh para trader dalam memantau pergerakan komoditas kopi di antero dunia. Semua aktivitas tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling terjalin dan berpilin.

Petani kopi di Batu Malang, Jawa Timur

Lalu, bagaimana soal menikmati kopi sebagai pembebasan? Pada kondisi hari ini akan lebih penting untuk memahami bahwa aktivitas menikmati kopi bukan sekadar budaya atau gaya hidup. Tetapi lebih kepada apa yang ditemukan di setiap teguknya, apa yang bisa dihayati di setiap cerita relasi sosial di belakangnya. Setiap rasa pahit, asam, manis, kecut yang dirasakan oleh lidah merupakan keistimewaan menikmati kopi, namun tersisipkan juga relasi sosial di dalamnya. Sehingga aktivitas menikmati kopi akan membawa pada lepasnya keterbelengguan otoritas tertentu yang akan mendikte cara dan preferensi dalam menikmati kopi bahkan memutus cerita relasi sosial di belakangnya. 

Coffee and Lifestyle
Bahwa rasa generik kopi adalah manis karena dicampur gula atau ritual-ritual tertentu yang perlu dilewati agar tercipta sensasi menikmati kopi yang asli. Saya kira, ngopi lebih dari sekedar budaya atau silaturahmi, bahkan bagi kaum muda yang mendeskripsikan dirinya sebagai masyarakat modern yang kekini-kinian, ngopi lebih dari sekedar life style. Jadi mari kita rumat budaya ngopi, untuk menjalin silaturahmi. Setidaknya ketika kita duduk bersama dalam satu meja, jangan asyik dengan gadget masing – masing. Makna dari ngopi adalah duduk berbincang menjalin persahabat dan saling memahami satu sama lain.




Thanks to Mr. Park from Coffee Belt in Batu City. Nice place with good coffee and friendship

Tuesday, September 12, 2017

PATAH

Terlalu banyak persimpangan
Kerikil dan tajam bebatuan

Tiba tiba kau memilih berhenti
Melepas mimpi,  frustasi
Pergi mengejar bahagiamu sendiri

Aku patah
Seperti layang layang tanpa arah
Sebegitu mudah kah kau menyerah
Ataukah harkatmu menjadi lebih rendah?

Sebentar  saja aku merasakan lara
Kini aku kembali mengembara
Cukuplah nanti karma mu kau bawa serta

Malang, 12 September 2017
Bagus Rochadi. Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "