Sunday, December 30, 2001

GELANDANGAN DAN KEMERDEKAAN

Di mana-mana merah putih berkibar. Seorang gelandangan tua menghirup udara pagi dalam kebaruan hari yang mencengangkan. Tiba – tiba saja ia ingat dengan jernih sekali sebuah peristiwa dari banyak peristiwa yang telah terlupa selama sekian puluh tahun. Telinganya seakan menangkap suara letupan senjata. Di Bekasi dia ditangkap karena mengibarkan bendera merah putih pada sebuah tiang kerekan burung. Dia tidak sadar benar apa yang mendorong dia untuk berbuat nekad ketika perkampungan sudah jatuh ke tangan kompeni, dan kawan – kawannya sudah kabur semua.
Serdadu – serdadu belanda menyeretnya sepanjang jalan becek, dan dia tidak henti – hentinya berteriak "Merdeka....!" Sehabis – habis suaranya. Di sebuah rumah dia dihajar sampai bengkok kakinya, sampai rontok gigi – giginya, sampai patah tulang iganya. Semua pertanyaan hanya dijawab dengan kata: "Merdeka!" Sejak hari itu dia tidak tahu bagaimana dia masih bisa bernafas sampai sekarang.
Orang – orang tak ada yang peduli tentang dia. Karena tubuhnya kotor dan bau. Karena kakinya pincang. Karena rambutnya yang panjang bergumpal – gumpal oleh tanah dan kotoran. Karena sepintas kilas orang yang melihatnya akan menyebutnya lelaki gila. Akan tetapi pagi ini benar – benar berbeda dengan pagi – pagi sebelumnya , dan tiada yang tahu bahwa orang gila ini sudah waras kembali.
Ia tiba di luar pagar sebuah sekolah dasar inpres bertingkat tiga yang sedang melaksanakan upacara, ia ikut menyanyikan lagu Indonesia raya dengan lantangnya. Suaranya tinggi dan melengking.Tubuhnya berdiri tegap dengan posisi menghormat. Kepalanya tengadah menatap merah putih yang dikerek anak – anak sekolah. Orang – orang yang lewat dan menyaksikannya tersenyum – senyum. Orang – orang yang melihatnya merasa lucu, tidak ada yang merasa bangga.
Selesai upacara anak – anak sekolah bubar. Lelaki gelandangan ini menatap wajah – wajah anak sekolah yang ceria karena mereka telah diperbolehkan pulang. Lelaki ini mengangguk – angguk dengan kagum menatap tunas muda harapan bangsa. Dalam hati dia berkata: "Oh, tanah air tercinta. Ternyata kemerdekaan telah berbuah banyak. Banyak. Banyak....."
Disusurinya sepanjang jalan Mataram – Salemba, lelaki tua yang baru terbangun dari tidur panjangnya ini menyebut nama Tuhan berulang – ulang. Merah putih berkibar dimana – mana, seakan – akan mengucapkan selamat pagi padanya. Jalan raya lebar dan licin, penuh kendaraan simpang siur. Gedung – gedung di sepanjang jalan berdiri dengan megahnya. Di persimpangan jalan depan sebuah rumah sakit, lelaki tua ini berjumpa dengan seorang polisi lalu lintas.
"Merdeka....!!!" Seru lelaki gelandangan ini.
Polisi lalu lintas itu hanya menggeleng – gelengkan kepala seraya tersenyum kecil.
Gelandangan itu merasa tersinggung karena polisi tersebut tidak menjawab salamnya. Dengan wajah keras dia mendekati polisi tersebut dan mencekal kerah bajunya. "Apa pangkatmu...?" Tanyanya membentak.
Polisi lalu lintas itu kaget bukan main dan menepiskan tangan si tua yang telah lancang berani mencekal kerah bajunya.
"Pergi kau....!!!" Hardik polisi itu sambil mundur beberapa langkah.
Tapi lelaki tua itu kian mendekat.
"Edan...!" Maki polisi lalu lintas itu sambil berlari ke arah motornya yang dia parkir se-enaknya di pinggir jalan. Lalu dia kabur dengan motornya.
Orang – orang yang menyaksikan kejadian tersebut hanya senyum – senyum saja. Lelaki tua tersebut memaki tak jelas dan kemudian melanjutkan langkahnya. Dengan seenaknya ia menyeberang jalan. Sebuah taksi hampir saja menabraknya. Sopirnya menjulurkan kepala dan membentaknya. "Mau mampus Loe, Monyet.....!!"
"Merdeka...!" Jawab lelaki tua itu sambil mengacungkan tinjunya ke atas dan meneruskan langkahnya dengan gagah. Lewat universitas Indonesia. Dekat sebuah pompa bensin, lelaki tua itu berdiri tegak menatap sebuah bajaj yang mogok. Pengemudinya sedang membetulkan mesin. Mata lelaki tua itu menatap pada gagang kaca spion bajaj, dimana ada merah putih kecil tergantung di situ. Kemudian ia mendekat, menengok wajah sang pengemudi bajaj yang tertunduk asyik bekerja. Matanya menangkap wajah muda dua puluh tahunan. Dan hatinya berbicara: "Mobil – mobil sedan lewat sedemikian banyak, tak satupun ada bendera merah putih kecil padanya. Tapi di satu kendaraan kecil ini aku jadi terharu. Oh, sopir muda engkau membuat aku menjadi bangga," Maka lelaki tua ini menyentuh lembut punggung anak muda tersebut. Anak muda sopir bajaj ini menolah.
"Merdeka.....! Salam sang lelaki tua.
Si sopir muda yang sedang kesal itupun menjawab, "Merdeka kepala loe Bejad! Orang gila pake macam – macam segala!"
Lelaki tua itu menyandarkan tubuhnya di badan bajaj.
"Pergi sana!" Usir sopir bajaj.
Lelaki tua itu menatapnya dalam – dalam. Pemuda sopir bajaj itu menjadi kesal dan mengusir lelakli tua itu lagi. Akhirnya lelaki tua itu menjauh juga, berjongkok kira – kira lima meter jauhnya dari bajaj. Sopir bajaj itu kembali meneruskan kerjanya membetulkan mesin bajajnya.
Tak lama kemudian mesin bajaj itu berhasil dihidupkan. Sopir bajaj itu menarik nafas lega dan membetulkan perkakasnya. Lelaki tua itu berdiri dari jongkoknya, memperhatikan sopir muda itu. Tiba – tiba saja mata lelaki tua itu menyala dengan tajam sekali. Dengan satu teriakan keras, dia berlari dengan cepat sekali. Cepat segala sesuatunya terjadi. Lelaki tua itu menghajar si sopir bajaj. Pergumulan terjadi tanpa si pemudai sopir bajaj mengerti duduk persoalannya. Dan dia mati dicekik lelaki tua itu. Orang – orang yang segera berkerumun tak kuasa melerai. Semuanya sudah terlambat.
Keesokan harinya koran – koran memberitakan peristiwa itu, tetapi tidak ditulis dengan besar – besar. Pembunuhan di ibukota ini bukan lagi peristiwa hebat, apalagi korbannya cuma seorang sopir bajaj. Dan dalam berita singkat itu diceritakan bahwa orang gila yang mengamuk tiba – tiba, dan kebetulan si sopir bajaj sial itu yang menjadi korbannya.
Orang – orang tidak ada yang tahu bahwa lelaki tua itu membunuh si sopir bajaj karena kemarahan yang luar biasa hebatnya. Selesai membereskan perkakasnya, pemuda sopir bajaj itu membersihkan tangannya yang hitam penuh oli dengan bendera kecil di kaca spionnya...!!!

Agustus 2001
Buat Pahlawan Yang Dilupakan

0 comments:

Post a Comment

Bagus Rochadi. Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "