Di
mana-mana merah putih berkibar. Seorang gelandangan tua menghirup udara
pagi dalam kebaruan hari yang mencengangkan. Tiba – tiba saja ia ingat
dengan jernih sekali sebuah peristiwa dari banyak peristiwa yang telah
terlupa selama sekian puluh tahun. Telinganya seakan menangkap suara
letupan senjata. Di Bekasi dia ditangkap karena mengibarkan bendera
merah putih pada sebuah tiang kerekan burung. Dia tidak sadar benar apa
yang mendorong dia untuk berbuat nekad ketika perkampungan sudah jatuh
ke tangan kompeni, dan kawan – kawannya sudah kabur semua.
Serdadu
– serdadu belanda menyeretnya sepanjang jalan becek, dan dia tidak
henti – hentinya berteriak "Merdeka....!" Sehabis – habis suaranya. Di
sebuah rumah dia dihajar sampai bengkok kakinya, sampai rontok gigi –
giginya, sampai patah tulang iganya. Semua pertanyaan hanya dijawab
dengan kata: "Merdeka!" Sejak hari itu dia tidak tahu bagaimana dia
masih bisa bernafas sampai sekarang.
Orang
– orang tak ada yang peduli tentang dia. Karena tubuhnya kotor dan bau.
Karena kakinya pincang. Karena rambutnya yang panjang bergumpal –
gumpal oleh tanah dan kotoran. Karena sepintas kilas orang yang
melihatnya akan menyebutnya lelaki gila. Akan tetapi pagi ini benar –
benar berbeda dengan pagi – pagi sebelumnya , dan tiada yang tahu bahwa
orang gila ini sudah waras kembali.
Ia
tiba di luar pagar sebuah sekolah dasar inpres bertingkat tiga yang
sedang melaksanakan upacara, ia ikut menyanyikan lagu Indonesia raya
dengan lantangnya. Suaranya tinggi dan melengking.Tubuhnya berdiri tegap
dengan posisi menghormat. Kepalanya tengadah menatap merah putih yang
dikerek anak – anak sekolah. Orang – orang yang lewat dan menyaksikannya
tersenyum – senyum. Orang – orang yang melihatnya merasa lucu, tidak
ada yang merasa bangga.
Selesai
upacara anak – anak sekolah bubar. Lelaki gelandangan ini menatap wajah
– wajah anak sekolah yang ceria karena mereka telah diperbolehkan
pulang. Lelaki ini mengangguk – angguk dengan kagum menatap tunas muda
harapan bangsa. Dalam hati dia berkata: "Oh, tanah air tercinta.
Ternyata kemerdekaan telah berbuah banyak. Banyak. Banyak....."
Disusurinya
sepanjang jalan Mataram – Salemba, lelaki tua yang baru terbangun dari
tidur panjangnya ini menyebut nama Tuhan berulang – ulang. Merah putih
berkibar dimana – mana, seakan – akan mengucapkan selamat pagi padanya.
Jalan raya lebar dan licin, penuh kendaraan simpang siur. Gedung –
gedung di sepanjang jalan berdiri dengan megahnya. Di persimpangan jalan
depan sebuah rumah sakit, lelaki tua ini berjumpa dengan seorang polisi
lalu lintas.
"Merdeka....!!!" Seru lelaki gelandangan ini.
Polisi lalu lintas itu hanya menggeleng – gelengkan kepala seraya tersenyum kecil.
Gelandangan
itu merasa tersinggung karena polisi tersebut tidak menjawab salamnya.
Dengan wajah keras dia mendekati polisi tersebut dan mencekal kerah
bajunya. "Apa pangkatmu...?" Tanyanya membentak.
Polisi lalu lintas itu kaget bukan main dan menepiskan tangan si tua yang telah lancang berani mencekal kerah bajunya.
"Pergi kau....!!!" Hardik polisi itu sambil mundur beberapa langkah.
Tapi lelaki tua itu kian mendekat.
"Edan...!"
Maki polisi lalu lintas itu sambil berlari ke arah motornya yang dia
parkir se-enaknya di pinggir jalan. Lalu dia kabur dengan motornya.
Orang
– orang yang menyaksikan kejadian tersebut hanya senyum – senyum saja.
Lelaki tua tersebut memaki tak jelas dan kemudian melanjutkan
langkahnya. Dengan seenaknya ia menyeberang jalan. Sebuah taksi hampir
saja menabraknya. Sopirnya menjulurkan kepala dan membentaknya. "Mau
mampus Loe, Monyet.....!!"
"Merdeka...!"
Jawab lelaki tua itu sambil mengacungkan tinjunya ke atas dan
meneruskan langkahnya dengan gagah. Lewat universitas Indonesia. Dekat
sebuah pompa bensin, lelaki tua itu berdiri tegak menatap sebuah bajaj
yang mogok. Pengemudinya sedang membetulkan mesin. Mata lelaki tua itu
menatap pada gagang kaca spion bajaj, dimana ada merah putih kecil
tergantung di situ. Kemudian ia mendekat, menengok wajah sang pengemudi
bajaj yang tertunduk asyik bekerja. Matanya menangkap wajah muda dua
puluh tahunan. Dan hatinya berbicara: "Mobil – mobil sedan lewat
sedemikian banyak, tak satupun ada bendera merah putih kecil padanya.
Tapi di satu kendaraan kecil ini aku jadi terharu. Oh, sopir muda engkau
membuat aku menjadi bangga," Maka lelaki tua ini menyentuh lembut
punggung anak muda tersebut. Anak muda sopir bajaj ini menolah.
"Merdeka.....! Salam sang lelaki tua.
Si sopir muda yang sedang kesal itupun menjawab, "Merdeka kepala loe Bejad! Orang gila pake macam – macam segala!"
Lelaki tua itu menyandarkan tubuhnya di badan bajaj.
"Pergi sana!" Usir sopir bajaj.
Lelaki
tua itu menatapnya dalam – dalam. Pemuda sopir bajaj itu menjadi kesal
dan mengusir lelakli tua itu lagi. Akhirnya lelaki tua itu menjauh juga,
berjongkok kira – kira lima meter jauhnya dari bajaj. Sopir bajaj itu
kembali meneruskan kerjanya membetulkan mesin bajajnya.
Tak
lama kemudian mesin bajaj itu berhasil dihidupkan. Sopir bajaj itu
menarik nafas lega dan membetulkan perkakasnya. Lelaki tua itu berdiri
dari jongkoknya, memperhatikan sopir muda itu. Tiba – tiba saja mata
lelaki tua itu menyala dengan tajam sekali. Dengan satu teriakan keras,
dia berlari dengan cepat sekali. Cepat segala sesuatunya terjadi. Lelaki
tua itu menghajar si sopir bajaj. Pergumulan terjadi tanpa si pemudai
sopir bajaj mengerti duduk persoalannya. Dan dia mati dicekik lelaki tua
itu. Orang – orang yang segera berkerumun tak kuasa melerai. Semuanya
sudah terlambat.
Keesokan
harinya koran – koran memberitakan peristiwa itu, tetapi tidak ditulis
dengan besar – besar. Pembunuhan di ibukota ini bukan lagi peristiwa
hebat, apalagi korbannya cuma seorang sopir bajaj. Dan dalam berita
singkat itu diceritakan bahwa orang gila yang mengamuk tiba – tiba, dan
kebetulan si sopir bajaj sial itu yang menjadi korbannya.
Orang
– orang tidak ada yang tahu bahwa lelaki tua itu membunuh si sopir
bajaj karena kemarahan yang luar biasa hebatnya. Selesai membereskan
perkakasnya, pemuda sopir bajaj itu membersihkan tangannya yang hitam
penuh oli dengan bendera kecil di kaca spionnya...!!!
Agustus 2001
Buat Pahlawan Yang Dilupakan
Buat Pahlawan Yang Dilupakan
0 comments:
Post a Comment