Wednesday, February 12, 2025

USMAN AND THE BLACKSTONE

Background
Situasi dunia rentan krisis: perang, ketimpangan sosial, dan krisis iklim. Tidak terkecuali Indonesia: perang di Papua, kemiskinan, represi atas kebebasan sipil dan perampasan lahan di Rempang dan Air Bangis hingga kerusakan ekologi akibat deforestasi untuk tambang batu bara Kalimantan, nikel Sulawesi dan Maluku, hingga yang terbesar di dunia: Merauke. Inilah implikasi kebijakan ekonomi yang kurang ramah sosial, hak asasi dan lingkungan.

Krisis ini telah lama disikapi para aktivis dengan beragam aktivisme tradisional: advokasi, lobi, riset, dan kampanye. Aktivisme teknologi juga berkembang: dari petisi, memes, sampai podcast. Tapi perpaduan aktivisme dan musik masih amat jarang. Padahal, secara historis, perpaduan keduanya efektif menyuarakan perubahan, memantik kesadaran, menumbuhkan solidaritas atau mobilisasi protes kreatif melawan ketidakadilan. Sejarah mencatat, musik bukan sekadar karya seni tapi juga aktivisme itu sendiri. Studi terbaru juga memperlihatkan aktivisme kreatif dengan seni terbukti lebih efektif dibanding aktivisme tradisional (Duncombe & Harrebye 2021).

Teori perubahannya sederhana. Menginspirasikan perubahan melalui aktivisme tradisional tetap penting. Aktivisme di ranah digital juga perlu. Tetapi ia menuntut inovasi baru yang kreatif supaya lebih bisa menarik simpati publik untuk mementingkan lingkungan dan hak asasi. Sebab mayoritas masyarakat umum Indonesia cenderung menyetujui demokrasi yang tak liberal dan mementingkan pertumbuhan ekonomi nasional dari hak asasi dan lingkungan (World Value Survey 2018, Aspinall et.al 2020). Mungkin ini penyebab tingginya dukungan masyarakat umum pada kebijakan ekonomi ketimbang kebijakan hak asasi dan lingkungan yang seharusnya terpadu.

Sementara aktivisme tradisional sulit menarik simpati masyarakat umum, ruang sipil yang tersedia bagi aktivisme justru menyusut. Sejak 2014-2024, tingkat ketakutan bicara politik meningkat dari 22% menjadi 51%, ketakutan atas kesewenang-wenangan aparat naik dari 32% menjadi 51%, ketakutan ikut organisasi naik dari 14% ke 28%, ketakutan menjalankan agama naik dari 7% ke 21%, dan persepsi atas pelanggaran konstitusi dan undang-undang oleh pemerintah melonjak dari 40% ke 52%. Dengan situasi ini, diperlukan aktivisme kreatif.

Ekspresi kreatif seperti musik memiliki potensi besar. Di dunia, musik John Lennon dan Bob Dylan atau penyanyi perempuan Joan Baez dan Dolly Parton berpadu dengan aktivisme anti perang, HAM dan diskriminasi. Coldplay, Lady Gaga, dan Alicia Key menyuarakan HAM dan keragaman gender. Di Indonesia, musik Iwan Fals menjadi alternatif ekspresi pada era Orde Baru. Musik Banda Neira hingga Efek Rumah Kaca menjadi anthem protes. Bahasa universal musik mengurai masalah yang kompleks menjadi mudah diserap khalayak umum. Sayangnya, musik yang berpotensi besar masih menjadi dunia sendiri, karya dominan masih terpisah dari aktivisme, berorientasi ekonomi, hiburan, bahkan tergantung industri yang kurang ramah sosial dan lingkungan.

Atas refleksi ini Usman Hamid mengajak rekan-rekan musisi ikut menyikapi krisis lewat aktivisme kreatif; memadukan aktivisme dan musik, membangun kolaborasi komunitas aktivis dan musisi, dan menyebarluaskan pesan-pesan hak asasi dan lingkungan lewat bahasa universal seni. Musik menggugah orang dan menyatukan komunitas. Jika komunitas bersatu, perubahan jadi mungkin. Ini juga dapat menjadi pilihan efektif untuk tetap berekspresi saat ruang sipil menghadapi tantangan.


Perspektif Gender
Meskipun personil kami dominan laki-laki, karya kami juga menyuarakan pengalaman, aspirasi, dan perjuangan kaum perempuan. Menjadikan laki-laki sebagai advokat hak-hak perempuan penting, sebab isu-isu ketimpangan gender bukan hanya urusan kaum perempuan, melainkan juga laki-laki. Contoh lagu kami terkait hal ini adalah:

Perempuan Gembala adalah lagu yang menyuarakan hak kaum perempuan suku sasak yang ruang hidupnya (sehari-hari menggembala kerbau) tergusur oleh proyek strategis nasional pembangunan sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kemanakah bercerita tentang kegigihan perempuan yang bertahun-tahun mencari keberadaan dan nasib dari seseorang yang dicintai. Perempuan ini menghadapi jalan terjal, mengalami gangguan kesehatan mental luar biasa berhalusinasi sendiri, menangis, tapi terus mencari hingga akhir hayat.

Payung Hitam menyuarakan perjuangan ibu-ibu yang bertahun-tahun berdiri di depan istana negara menuntut keadilan atas pelanggaran HAM masa lalu. Seorang tokohnya, Maria Catarina Sumarsih, menyuarakan perspektif ibu yang anak-anaknya dibunuh, disiksa, dan diperkosa.

Pada ketiga lagu tersebut, dan juga lagu lainnya, sejumlah mahasiswi dari Universitas Trisakti ikut dalam produksi dan bernyanyi: Sandra Putri, Veronica, dan lainnya. Agar semakin inklusif, kami menyediakan sign language interpreter ketika menggelar pertunjukkan langsung.


Project-lead - @UsmanHAM_ID

1.      Pelaksana dan penanggungjawab prakarsa ini adalah Usman Hamid (vocal). Lahir di Jakarta, pada 6 Mei 1976. Musik digelutinya sejak kecil namun terhenti saat ia dan ibunya memulai inisiatif untuk perempuan yang kesulitan ekonomi pada 1997. Ia terlibat aktivisme hak manusia, hak satwa dan lingkungan selama dua dekade. Mimpi musiknya tak padam. Kini ia memadukan perjalanan aktivisme dengan musik yang dirangkum dalam album Bumi dan Aku Kini. Band-nya, UATB, adalah reinkarnasi dari band yang didirikan saat SMA, The Blackstones--berasal dari Hajar Aswad (The Holy Blackstone) yang diusulkan ibunya ketika resah pada nama band Usman saat itu: The Drugs. Bukan musiknya, tapi gaya hidup Usman dan bandnya yang cenderung memberontak aturan sekolah/rumah. The Blackstones-nya meraih juara festival musik 1990an: lirik dan komposisi terbaik Festival Musik Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia.



Team Members

2.   Akbar Kelana Halim (guitar), lahir di Los Angeles, California, USA, pada 6 Februari 1986. Ia adalah insinyur musik lulusan SEA Institute, Sydney, Australia. Belajar biola, piano dan teori musik sejak kecil. Dia bekerja di Mekel Music Management selama 15 tahun, mendampingi Elfona ‘Once’ Mekel saat menjadi vokalis Dewa19 hingga membantu produksi solo musik Once berjudul “Tak Sempurna”, “Intrinsik” (2015) dan “Sigma” (2023). Ia kerap mengiringi Once dalam berbagai acara musik di dalam dan luar negeri. Akun IG @Cukelana 


3.  Dwi Yudha Soefaca (guitar), lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 21 September 1988. Ia biasa disapa Win memiliki pengalaman unik bermusik. Mengawali karirnya sebagai seorang penggemar Slank di Sulawesi. Karena piawai memainkan karya Slank, ia direkrut menjadi Slank Crew, khususnya membantu pemain bass Slank, Ivanka. Kini ia menjadi pemain gitar dan keyboard additional Slank di balik layar saat pertunjukan langsung tapi tampil di depan ketika mengiringi Kaka Slank ketika tampil sebagai penyanyi solo. Akun IG @WinGuitars


Kis Winarko (bass), lahir di Jakarta, pada 4 Februari 1976. Bermusik sejak remaja, Kis makin giat bermusik saat membuat band The Blackstones bersama Usman lalu berkiprah sebagai pembawa ‘cover’ lagu-lagu The Beatles dan The Rolling Stones di tempat hiburan di Jakarta, termasuk Elvis dan SCBD. Saat kuliah di Jakarta, Kis dan Usman masuk dapur rekaman pada awal 1997 dengan nama Airmesta. Tapi krisis moneter pada 1997 membuat rekaman berhenti. Kesibukan kerja masing-masing membuat mereka vakum bertahun-tahun. Selain bermain bass di U.A.T.B., ia bekerja di sebuah perusahaan swasta. @Kis_donk_ah 


5.   Ficky Rizky (drum), lahir di Kuala Tungkal, Jambi, Pekanbaru, pada 3 Februari 1989. Sosok termuda di band U.A.T.B. berperan sebagai penggebuk drum. Memulai karirnya di Jambi, ia mengadu nasib di Jakarta sebagai pemain ‘homeband’ di kawasan Kelapa Gading. Selain menjadi pemain drum Usman And The Blackstones, ia juga tengah bereksperimen dengan kelompok musik Methosaverse. Sehari-hari, ia adalah karyawan di DW drums Indonesia, sebuah cabang perusahaan produksi drum terkemuka di dunia. @Vicky_Groove


 

6.  Selain kelima personil tersebut, UATB juga memiliki belasan personil paduan suara yang terlibat dalam produksi album Bumi dan Aku Kini. Mereka adalah anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Trisakti (PSMUT). Paduan suara ini meraih penghargaan di berbagai kompetisi paduan suara di tingkat nasional, regional, dan internasional. Sementara tim yang terlibat kegiatan promosi antara lain Fiqie Noor Anbiya (camera man), Diva Suu Kyi Larasati (admin media sosial, yang merupakan putri dari pembela HAM Munir Said Thalib), Wanda Hamidah dan Nancy Weber (pemasaran dan jaringan). Tim manajemen dan promosi: Fiqie Noor Anbiya (video camera man), Diva Suu Kyi Larasati (admin media sosial, putri Munir Said Thalib), Wanda Hamidah dan Nancy Weber (pemasaran dan jaringan).

 

Kolaborator

Once Mekel, penyanyi yang mensukseskan Dewa19 dan sukses berkarir solo lewat album dan single yang terkenal, antara lain Dealova, Simfoni Yang Indah, Anggun, Karena Kucinta Kau, dan Ditentukan Bersama. Penyanyi papan atas ini memiliki jutaan penggemar di dalam dan luar negeri, termasuk komunitas musisi. Menjadi anggota DPR RI Periode 2024-2029, dia tentu dapat ikut menggemakan pesan-pesan lagu kami di tingkat pengambil kebijakan.

 


Fajar Merah adalah vokalis band Merah Bercerita yang memiliki basis penggemar yang luas di Indonesia. Putra penyair Wiji Thukul yang hilang sejak 1998 ini telibat memproduksi lagu kami yang berjudul “Kemanakah” di mana ia juga menjadi vokal tamu. Fajar belum lama ini melakukan semacam mini tour di Tanah Eropa yang mendapat sambutan positif. Fajar telah tampil bersama kami dalam sejumlah pertunjukkan musik dalam kurun waktu 2023-2024.



Monday, February 10, 2025

PENJUAL ES TEH



Tuhan selalu penuh keajaiban. Pada waktu yang singkat, Ia bisa saja menaikkan derajat hamba yang diinginkan-Nya. Demikian pula sebaliknya, Ia pun dapat dengan mudah merendahkan derajat hamba yang lain. Tak ada yang mengetahui bagaimana nasib dan takdir seseorang, bahkan untuk 1 (satu) detik ke depan tak ada makhluk di semesta ini yang mampu mengetahui. 

"Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," (02-284)

Kita boleh hina di hadapan manusia, akan tetapi jangan sampai kita hina di hadapan sang pencipta. Nasehat ini aku dapatkan Ketika masih SMA, dari seseorang yang saat itu aku panggil Mbak Ocha. Bahkan hari ini pun aku terus belajar untuk tidak menghinakan diri di hadapan sang maha kuasa. Waktu terus berlalu, dan nasehat itu masih terpahat manis pada dasar sanubariku.

Blora, 10 januari 2025

 


Thursday, October 3, 2024

Kota Batu


Perekonomian kota Batu ketika masih berada di bawah naungan Kabupaten Malang bergantung pada sektor pertanian dan peternakan. Kondisi sosial masyarakat Batu dibagi menjadi 2 golongan yang dipisahkan oleh sungai Brantas. Kasta pertama ditempati para petani yang banyak dari mereka adalah raja-raja kecil yang menempati lor brantas (utara sungai Brantas. Kasta berikutnya adalah yang sebagaian besar adalah para pegawai pemerintahan dan pedagang yang mayoritas tinggal di kidul Brantas (selatan sungai brantas).

Ketika menjadi kotatif, perubahan belum terlalu signifikan meski muncul Jatimpark 1 sebagai pendatang baru melawan dominasi Selecta dan Songgoriti yang bergerak di bidang destinasi pariwisata. Imam Kabul sebagai walikota pertama di kota Batu masih mengutamakan daerah yang religius dan pertanian.

Perbedaan besar adalah ketika Eddy Rumpoko terpilih sebagai walikota. Batu diubah sebagai kota wisata. Pembangunan mulai ugal-ugalan. Tentu hal ini berimbas pada perubahan iklim di kota Batu. Secara ekonomi terjadi lonjakan yang cukup drastis. Perekonomian yang dulu bergantung pada sektor pertanian, berubah menjadi sektor pariwisata. Masyarakat pribumi mulai menjual tanah-tanah mereka yang kemudian berubah menjadi hotel, villa dan destinasi pariwisata. Parahnya, Perhutani pun mulai ikut bermain dengan mengubah alih fungsi hutan yang seharusnya sebagai penopang paru-paru di kota Batu. Lahan hutan mulai disewakan kepada para investor untuk berganti menjadi destinasi wisata kekinian. Hutan-hutan pun mulai ditebangi untuk kebutuhan penunjang pariwisata. Café-café mengejar instagramable dengan konsep pedesaan yang berada di lahan hijau. Tata ruang pun mulai kacau. Perekonomian tentunya masih dipegang oleh pengusaha besar yang mayoritas mereka adalah investor dari luar kota Batu.

Apabila anda pernah check in di kota Batu, pernahkan anda mendapatkan buah apel atau susu segar yang merupakan produk asli kota batu menjadi welcome drink di hotel tempat anda menginap? Ini sebenernya adalah hal-hal sederhana, akan tetapi tentunya akan sangat membantu para petani apel dan peternak susu di kota Batu sebagai serapan produk pertanian dan peternakan mereka. Akan tetapi hari ini, teman-teman saya petani dan peternak mulai menyerah dengan usaha yang mereka tekuni selama ini. Anak-anak mereka tidak menjadikan pertanian dan peternakan sebagai penopang perekonomian di masa depan.

Hari ini, menjelang pilkada kota Batu. Terdapat 3 calon walikota, dan satu-satunya pasangan putra daerah ada di Cak Nur dan Mas Heli. Harapan saya mereka sebagai putra daerah, dan lahir sebagai putra petani tentunya prihatin dengan kondisi Batu saat ini. Pekerjaan yang harus dirampungkan adalah Kembali membenahi tata ruang kota Batu dan ngademkan Kembali kota Batu.

Saya pribadi sebagai warga lokal yang juga memiliki usaha di bidang pariwisata merasa miris. Tamu-tamu saya dahulu ketika awal kepemimpinan Eddy Rumpoko selalu mengatakan, batu secara pembangunan maju pesat. Sekarang tamu-tamu saya dari luar kota mengatakan, “Batu kok sudah tidak dingin lagi ya?”

Ancaman kerusakan ekosistem tentunya juga harus menjadi perhatian serius Cak Nur dan Mas Heli. Saya secara terus terang mendukung dan berharap banyak kepada mereka untuk terpilih sebagai walikota dan membenahi carut-marut tata ruang di kota Batu.

 

Batu, 03 oktober 2024

 

Bagus Rochadi  
Indonesian Super Guide

 

Tuesday, June 11, 2024

NASEHAT BAPAK

“Apa hebatnya Muhammad, sehingga dijadikan Beliau utusan terakhir dan Rasul yang paling dimuliakan oleh Allah SWT? Padahal Muhammad tak sehebat Ibrahim yang tak mampu api membakarnya, tak sehebat Musa yang mampu membelah lautan, tak seperti Sulaiman yang menjadi manusia paling kaya sepanjang sejarah, atau tak seperti Isa yang bahkan mampu menghidupkan orang mati,” pertanyaanku suatu ketika pada Bapak kala aku masih remaja.


“Muzizat Rasulullah, Beliau adalah seorang pemaaf,”         

Pertanyaanku sepanjang itu  dijawab oleh Bapak dengan jawaban yang sangat sederhana. Saat itu aku tidak bisa menerima jawaban Bapak, namun aku pun tak punya cukup dasar untuk membantahnya. Sampai pada akhirnya, kemudian aku mengetahui sebuah kisah bahwasannya Rasulullah pernah mendapat tawaran dari Jibril untuk melemparkan Gunung Sinai kepada kaum Thaif yang melempari Beliau dengan Batu hingga Beliau terluka. Akan tetapi Beliau menjawabnya;

إِنَّ اللهَ لم يبعَثْنِي طعَّانًا ، ولا لعَّانًا ، ولكن بعَثَني داعِيًا ورحمَةً ، اللهم اهدِ قوْمِي فإِنَّهم لا يعلمونَ   
"Allah tidak mengutusku untuk menjadi orang yang merusak dan juga tidak untuk menjadi orang yang  melaknat. Akan tetapi Allah SWT mengutusku untuk menjadi penyeru doa dan pembawa rahmat. Ya Allah, berilah hidayah untuk kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman). 

Sejenak aku merenungkan belum anak yang terlahir dari orang tua tunggal penyabar, tidak menjamin pula menjadi anak yang penyabar. Bahkan bisa tumbuh sebaliknya. Aku tumbuh menjadi seorang pemberontak, agresif , bahkan penuh amarah. Penderitaan demi penderitaan seperti tak berhenti menghujam, akan tetapi doa Bapak menyertaiku sepanjang perjalanan hidup. Aku senantiasa dipertemukan dengan keajaiban. Teman-teman yang tak kenal lelah menemaniku menuju pada kebaikan.

Terima kasih Bapak. Bahkan setelah kau tiada, nasehat dan doa-doa mu abadi menerangi setiap perjalanan hidupku. Maafkan anakmu yang tak pernah bisa menjadi sepertimu.

Apabila engkau masih seorang pendendam, maka dalam setiap shalatmu renungkanlah ayat ini:
مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ
Pemilik hari pembalasan

Batu, 12 Juni 2024

Sunday, April 30, 2023

RUANG PUBLIK

 

Mengabadikan gambar tersebut, ada perasaan sedih dan lucu. Betapa tidak, dua orang anak SD sedang bermain air di salah satu kolam  yang berada di alun-alun Batu. Mungkin ini adalah sebuah gambaran semakin sedikitnya ruang terbuka gratis yang dapat dinikmati oleh anak-anak. Sekarang untuk sekedar bermain bola, harus menyewa lapangan futsal berbayar. Mau main air di sungai, debit air sungai semakin kecil dan tentunya air sungai saat ini semakin keruh. Tidak heran apabila anak-anak sekarang lebih tertarik bermain gadget, daripada harus bergerak di ruang terbuka. Tak ada sesuatu lagi yang membangkitkan gairah anak-anak untuk menghabiskan energinya di ruang terbuka.

Aku masih ingat, pada tahun 90 an alun-alun Batu yang berada di depan rumah hanya berupa taman dengan fasilitas yang cukup minim. Tidak banyak bangunan ataupun tanaman, lebih banyak di dominasi tanah lapang dengan rumput-rumput yang kurang terawat. Tidak ada yang dibanggakan saat itu dengan kondisi alun-alun Batu, bahkan ketika malam tidak ada yang mau nongkrong di dalam alun alun Batu. Penerangan hanya seadanya saja, kotor dan bau pesing.

Hampir setiap hari kami memanfaatkan area lapang di alun-alun Batu tersebut untuk bermain bola. Berbekal sandal sebagai gawangnya, dan azan mahgrib sebagai peluit tanda pertandingan harus berakhir. Awal awal kami seringkali diusir oleh petugas alun-alun dengan alasan merusak rumput taman. Akan tetapi yang bermain semakin lama semakin banyak, petugas alun alun pun mulai bosan, dan kami dibiarkannya memanfaatkan tanah lapang alun alun sepuasnya. Benar benar masa yang menyenangkan. Kami dapat berolah raga murah, menyenangkan dan tentunya gratis. Bahkan kawan semakin banyak karena yang bermain bola pun  berdatangan dari kampung sebelah.

Saat ini, tampilan alun alun kota Batu jauh berbeda. Alun-alun semakin modern, bahkan menjadi trend setter wajah alun alun di Indonesia. Mungkin inilah salah satu alun alun paling ramai di Indonesia. Alun alun tetaplah sebuah ruang publik gratis yang dapat dinikmati siapapun. Semua tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Aku bersyukur menjadi anak tempo dahulu. Untuk bahagia, kadang tumbuh dari hal-hal sederhana. Sore ini, aku menikmati alun alun yang berada tepat di depan rumah sembari merenungi kesenangan masa lalu. Tentunya tak lupa secangkir kopi menemani soreku. Semoga berikutnya, Pemda dapat memberikan ruang-ruang publik untuk berolah-raga yang dapat di nikmati oleh siapapun, tanpa melalui rumitnya proses birokrasi.

Bagus Rochadi

kota Batu, 30 april 2023

Sunday, April 2, 2023

Sajak Untuk Chelsea (Echi)

 

 

Kepada senja sebelum gelap tiba, berbisiklah padanya; gelap hanya sementara. Jutaan bintang adalah pelita, selalu ada teman di kala duka.

Kepada gemuruh sebelum petir, teriaklah padanya, tak perlu ada yang ditakutkan pada takdir. Setiap getir pasti akan berakhir.


Kepada gulita sebelum surya tiba, katakan padanya; terik takkan mampu membakar mimpinya. Beranilah melawan dunia, teduh akan selalu menjaganya.


Kepada awan sebelum datang hujan, aku menitipkan pesan; pelangi tak selalu mennjanjikan. Bukan berarti keniscayaan adalah keabadian. Kebahagiaan kitalah yang ciptakan.

Batu, 02 april 2023

Bagus Rochadi

 

Tuesday, December 20, 2022

MONOLOG

Siapa yang berani melawan arus, maka dia akan menemukan mata air. Akan tetapi, hidup tidak sesederhana itu. Menjadi berbeda dan mempertahankan prinsip tentunya harus bersiap untuk tidak disukai. Dikucilkan dan jadi korban rasan-rasan.

Orang yang tersenyum di depan kita, belum tentu bersikap demikian pula saat berada di belakang kita. Bahkan orang yang kita tolong pun belum tentu akan menolong saat kita sendiri ditimpa sebuah musibah. Bisa jadi dia malah menertawakan kesusahan kita.

Pada titik ini, aku mulai meragukan keikhlasanku. Mulai bertanya tanya agama sepertinya hanya cukup sebagai memenuhi persyaratan kolom legalitas administrasi pemerintahan belaka. Bahkan ibadah tak lebih sebuh ritual keegoisan manusia. Seringkali aku merasa heran, ada manusia yang rajin beribadah akan tetapi perilakunya tidak mencerminkan sebagai manusia beragama. Sikap dan sifatnya jauh bertolak-belakang.

Perjalanan, peristiwa demi peristiwa semakin mengajarkanku bahwasannya berbuat baik saja tidak cukup. Harus ada kesabaran tak berbatas yang harus senantiasa mengiringinya. Kita tidak dapat memaksa orang lain untuk berubah, akan tetapi kita cukup dengan mengendalikan diri sendiri agar tidak terseret oleh arus.

Perlahan-lahan, aku mulai sedikit memahami kehidupan. Sekali waktu, kita hanya harus duduk diam dan menghela nafas dalam-dalam. Merelakan bahwasannya tidak semua sesuai rencana, kadang takdir menghempas diri tak berdaya. Mengikhlaskan, dan selalu berprasangka baik kepada sang pencipta.

"Duh Gusti, kulo manut skenario njenengan...."

Malang, 20 desember 2022

Bagus Rochadi. Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "