Krisis ini telah lama
disikapi para aktivis dengan beragam aktivisme tradisional: advokasi, lobi,
riset, dan kampanye. Aktivisme teknologi juga berkembang: dari petisi, memes,
sampai podcast. Tapi perpaduan aktivisme dan musik masih amat
jarang. Padahal, secara historis, perpaduan keduanya efektif menyuarakan
perubahan, memantik kesadaran, menumbuhkan solidaritas atau mobilisasi protes
kreatif melawan ketidakadilan. Sejarah mencatat, musik bukan sekadar karya seni
tapi juga aktivisme itu sendiri. Studi terbaru juga memperlihatkan aktivisme
kreatif dengan seni terbukti lebih efektif dibanding aktivisme tradisional
(Duncombe & Harrebye 2021).
Teori perubahannya
sederhana. Menginspirasikan perubahan melalui aktivisme tradisional tetap
penting. Aktivisme di ranah digital juga perlu. Tetapi ia menuntut inovasi baru
yang kreatif supaya lebih bisa menarik simpati publik untuk mementingkan
lingkungan dan hak asasi. Sebab mayoritas masyarakat umum Indonesia cenderung
menyetujui demokrasi yang tak liberal dan mementingkan pertumbuhan ekonomi
nasional dari hak asasi dan lingkungan (World Value Survey 2018, Aspinall et.al
2020). Mungkin ini penyebab tingginya dukungan masyarakat umum pada kebijakan
ekonomi ketimbang kebijakan hak asasi dan lingkungan yang seharusnya terpadu.
Sementara aktivisme
tradisional sulit menarik simpati masyarakat umum, ruang sipil yang tersedia
bagi aktivisme justru menyusut. Sejak 2014-2024, tingkat ketakutan bicara politik
meningkat dari 22% menjadi 51%, ketakutan atas kesewenang-wenangan aparat naik
dari 32% menjadi 51%, ketakutan ikut organisasi naik dari 14% ke 28%, ketakutan
menjalankan agama naik dari 7% ke 21%, dan persepsi atas pelanggaran konstitusi
dan undang-undang oleh pemerintah melonjak dari 40% ke 52%. Dengan situasi ini,
diperlukan aktivisme kreatif.
Ekspresi kreatif seperti
musik memiliki potensi besar. Di dunia, musik John Lennon dan Bob Dylan atau
penyanyi perempuan Joan Baez dan Dolly Parton berpadu dengan aktivisme anti
perang, HAM dan diskriminasi. Coldplay, Lady Gaga, dan Alicia Key menyuarakan
HAM dan keragaman gender. Di Indonesia, musik Iwan Fals menjadi alternatif
ekspresi pada era Orde Baru. Musik Banda Neira hingga Efek Rumah Kaca menjadi
anthem protes. Bahasa universal musik mengurai masalah yang kompleks menjadi
mudah diserap khalayak umum. Sayangnya, musik yang berpotensi besar masih
menjadi dunia sendiri, karya dominan masih terpisah dari aktivisme,
berorientasi ekonomi, hiburan, bahkan tergantung industri yang kurang ramah
sosial dan lingkungan.
Atas refleksi ini Usman
Hamid mengajak rekan-rekan musisi ikut menyikapi krisis lewat aktivisme
kreatif; memadukan aktivisme dan musik, membangun kolaborasi komunitas aktivis
dan musisi, dan menyebarluaskan pesan-pesan hak asasi dan lingkungan lewat
bahasa universal seni. Musik menggugah orang dan menyatukan komunitas. Jika
komunitas bersatu, perubahan jadi mungkin. Ini juga dapat menjadi pilihan
efektif untuk tetap berekspresi saat ruang sipil menghadapi tantangan.
Perspektif Gender
Meskipun personil kami dominan laki-laki, karya kami juga menyuarakan
pengalaman, aspirasi, dan perjuangan kaum perempuan. Menjadikan laki-laki
sebagai advokat hak-hak perempuan penting, sebab isu-isu ketimpangan gender
bukan hanya urusan kaum perempuan, melainkan juga laki-laki. Contoh lagu kami
terkait hal ini adalah:
Perempuan Gembala adalah lagu yang menyuarakan hak kaum perempuan suku sasak yang ruang
hidupnya (sehari-hari menggembala kerbau) tergusur oleh proyek strategis
nasional pembangunan sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Kemanakah bercerita tentang kegigihan perempuan yang bertahun-tahun mencari
keberadaan dan nasib dari seseorang yang dicintai. Perempuan ini menghadapi
jalan terjal, mengalami gangguan kesehatan mental luar biasa berhalusinasi
sendiri, menangis, tapi terus mencari hingga akhir hayat.
Payung Hitam menyuarakan perjuangan ibu-ibu yang bertahun-tahun berdiri di depan istana
negara menuntut keadilan atas pelanggaran HAM masa lalu. Seorang tokohnya,
Maria Catarina Sumarsih, menyuarakan perspektif ibu yang anak-anaknya dibunuh,
disiksa, dan diperkosa.
Pada ketiga lagu tersebut, dan juga lagu lainnya, sejumlah mahasiswi dari
Universitas Trisakti ikut dalam produksi dan bernyanyi: Sandra Putri, Veronica,
dan lainnya. Agar semakin inklusif, kami menyediakan sign language interpreter
ketika menggelar pertunjukkan langsung.
Project-lead - @UsmanHAM_ID
1. Pelaksana dan penanggungjawab prakarsa ini adalah Usman Hamid (vocal). Lahir di Jakarta, pada 6 Mei 1976. Musik digelutinya sejak kecil namun terhenti saat ia dan ibunya memulai inisiatif untuk perempuan yang kesulitan ekonomi pada 1997. Ia terlibat aktivisme hak manusia, hak satwa dan lingkungan selama dua dekade. Mimpi musiknya tak padam. Kini ia memadukan perjalanan aktivisme dengan musik yang dirangkum dalam album Bumi dan Aku Kini. Band-nya, UATB, adalah reinkarnasi dari band yang didirikan saat SMA, The Blackstones--berasal dari Hajar Aswad (The Holy Blackstone) yang diusulkan ibunya ketika resah pada nama band Usman saat itu: The Drugs. Bukan musiknya, tapi gaya hidup Usman dan bandnya yang cenderung memberontak aturan sekolah/rumah. The Blackstones-nya meraih juara festival musik 1990an: lirik dan komposisi terbaik Festival Musik Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia.
Team Members
2. Akbar Kelana Halim (guitar), lahir di Los Angeles, California, USA, pada 6 Februari 1986. Ia adalah insinyur musik lulusan SEA Institute, Sydney, Australia. Belajar biola, piano dan teori musik sejak kecil. Dia bekerja di Mekel Music Management selama 15 tahun, mendampingi Elfona ‘Once’ Mekel saat menjadi vokalis Dewa19 hingga membantu produksi solo musik Once berjudul “Tak Sempurna”, “Intrinsik” (2015) dan “Sigma” (2023). Ia kerap mengiringi Once dalam berbagai acara musik di dalam dan luar negeri. Akun IG @Cukelana
3. Dwi Yudha
Soefaca (guitar), lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 21 September 1988. Ia
biasa disapa Win memiliki pengalaman unik bermusik. Mengawali karirnya sebagai
seorang penggemar Slank di Sulawesi. Karena piawai memainkan karya Slank, ia
direkrut menjadi Slank Crew, khususnya membantu pemain bass Slank, Ivanka. Kini
ia menjadi pemain gitar dan keyboard additional Slank di balik layar saat
pertunjukan langsung tapi tampil di depan ketika mengiringi Kaka Slank ketika
tampil sebagai penyanyi solo. Akun IG @WinGuitars
Kis Winarko (bass), lahir di Jakarta, pada 4 Februari 1976. Bermusik sejak remaja, Kis makin giat bermusik saat membuat band The Blackstones bersama Usman lalu berkiprah sebagai pembawa ‘cover’ lagu-lagu The Beatles dan The Rolling Stones di tempat hiburan di Jakarta, termasuk Elvis dan SCBD. Saat kuliah di Jakarta, Kis dan Usman masuk dapur rekaman pada awal 1997 dengan nama Airmesta. Tapi krisis moneter pada 1997 membuat rekaman berhenti. Kesibukan kerja masing-masing membuat mereka vakum bertahun-tahun. Selain bermain bass di U.A.T.B., ia bekerja di sebuah perusahaan swasta. @Kis_donk_ah
5. Ficky Rizky
(drum), lahir di Kuala Tungkal, Jambi, Pekanbaru, pada 3 Februari 1989. Sosok
termuda di band U.A.T.B. berperan sebagai penggebuk drum. Memulai karirnya di
Jambi, ia mengadu nasib di Jakarta sebagai pemain ‘homeband’ di kawasan Kelapa
Gading. Selain menjadi pemain drum Usman And The Blackstones, ia juga tengah
bereksperimen dengan kelompok musik Methosaverse. Sehari-hari, ia adalah
karyawan di DW drums Indonesia, sebuah cabang perusahaan produksi drum
terkemuka di dunia. @Vicky_Groove
6. Selain kelima personil tersebut, UATB juga memiliki belasan personil paduan suara yang terlibat dalam produksi album Bumi dan Aku Kini. Mereka adalah anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Trisakti (PSMUT). Paduan suara ini meraih penghargaan di berbagai kompetisi paduan suara di tingkat nasional, regional, dan internasional. Sementara tim yang terlibat kegiatan promosi antara lain Fiqie Noor Anbiya (camera man), Diva Suu Kyi Larasati (admin media sosial, yang merupakan putri dari pembela HAM Munir Said Thalib), Wanda Hamidah dan Nancy Weber (pemasaran dan jaringan). Tim manajemen dan promosi: Fiqie Noor Anbiya (video camera man), Diva Suu Kyi Larasati (admin media sosial, putri Munir Said Thalib), Wanda Hamidah dan Nancy Weber (pemasaran dan jaringan).
Kolaborator
Once Mekel, penyanyi yang mensukseskan Dewa19 dan sukses berkarir solo lewat album dan single yang terkenal, antara lain Dealova, Simfoni Yang Indah, Anggun, Karena Kucinta Kau, dan Ditentukan Bersama. Penyanyi papan atas ini memiliki jutaan penggemar di dalam dan luar negeri, termasuk komunitas musisi. Menjadi anggota DPR RI Periode 2024-2029, dia tentu dapat ikut menggemakan pesan-pesan lagu kami di tingkat pengambil kebijakan.
Fajar Merah
adalah vokalis band Merah Bercerita yang memiliki basis penggemar yang luas di
Indonesia. Putra penyair Wiji Thukul yang hilang sejak 1998 ini telibat
memproduksi lagu kami yang berjudul “Kemanakah” di mana ia juga menjadi vokal
tamu. Fajar belum lama ini melakukan semacam mini tour di Tanah Eropa yang
mendapat sambutan positif. Fajar telah tampil bersama kami dalam sejumlah
pertunjukkan musik dalam kurun waktu 2023-2024.











