Wednesday, February 12, 2025

USMAN AND THE BLACKSTONE

Background
Situasi dunia rentan krisis: perang, ketimpangan sosial, dan krisis iklim. Tidak terkecuali Indonesia: perang di Papua, kemiskinan, represi atas kebebasan sipil dan perampasan lahan di Rempang dan Air Bangis hingga kerusakan ekologi akibat deforestasi untuk tambang batu bara Kalimantan, nikel Sulawesi dan Maluku, hingga yang terbesar di dunia: Merauke. Inilah implikasi kebijakan ekonomi yang kurang ramah sosial, hak asasi dan lingkungan.

Krisis ini telah lama disikapi para aktivis dengan beragam aktivisme tradisional: advokasi, lobi, riset, dan kampanye. Aktivisme teknologi juga berkembang: dari petisi, memes, sampai podcast. Tapi perpaduan aktivisme dan musik masih amat jarang. Padahal, secara historis, perpaduan keduanya efektif menyuarakan perubahan, memantik kesadaran, menumbuhkan solidaritas atau mobilisasi protes kreatif melawan ketidakadilan. Sejarah mencatat, musik bukan sekadar karya seni tapi juga aktivisme itu sendiri. Studi terbaru juga memperlihatkan aktivisme kreatif dengan seni terbukti lebih efektif dibanding aktivisme tradisional (Duncombe & Harrebye 2021).

Teori perubahannya sederhana. Menginspirasikan perubahan melalui aktivisme tradisional tetap penting. Aktivisme di ranah digital juga perlu. Tetapi ia menuntut inovasi baru yang kreatif supaya lebih bisa menarik simpati publik untuk mementingkan lingkungan dan hak asasi. Sebab mayoritas masyarakat umum Indonesia cenderung menyetujui demokrasi yang tak liberal dan mementingkan pertumbuhan ekonomi nasional dari hak asasi dan lingkungan (World Value Survey 2018, Aspinall et.al 2020). Mungkin ini penyebab tingginya dukungan masyarakat umum pada kebijakan ekonomi ketimbang kebijakan hak asasi dan lingkungan yang seharusnya terpadu.

Sementara aktivisme tradisional sulit menarik simpati masyarakat umum, ruang sipil yang tersedia bagi aktivisme justru menyusut. Sejak 2014-2024, tingkat ketakutan bicara politik meningkat dari 22% menjadi 51%, ketakutan atas kesewenang-wenangan aparat naik dari 32% menjadi 51%, ketakutan ikut organisasi naik dari 14% ke 28%, ketakutan menjalankan agama naik dari 7% ke 21%, dan persepsi atas pelanggaran konstitusi dan undang-undang oleh pemerintah melonjak dari 40% ke 52%. Dengan situasi ini, diperlukan aktivisme kreatif.

Ekspresi kreatif seperti musik memiliki potensi besar. Di dunia, musik John Lennon dan Bob Dylan atau penyanyi perempuan Joan Baez dan Dolly Parton berpadu dengan aktivisme anti perang, HAM dan diskriminasi. Coldplay, Lady Gaga, dan Alicia Key menyuarakan HAM dan keragaman gender. Di Indonesia, musik Iwan Fals menjadi alternatif ekspresi pada era Orde Baru. Musik Banda Neira hingga Efek Rumah Kaca menjadi anthem protes. Bahasa universal musik mengurai masalah yang kompleks menjadi mudah diserap khalayak umum. Sayangnya, musik yang berpotensi besar masih menjadi dunia sendiri, karya dominan masih terpisah dari aktivisme, berorientasi ekonomi, hiburan, bahkan tergantung industri yang kurang ramah sosial dan lingkungan.

Atas refleksi ini Usman Hamid mengajak rekan-rekan musisi ikut menyikapi krisis lewat aktivisme kreatif; memadukan aktivisme dan musik, membangun kolaborasi komunitas aktivis dan musisi, dan menyebarluaskan pesan-pesan hak asasi dan lingkungan lewat bahasa universal seni. Musik menggugah orang dan menyatukan komunitas. Jika komunitas bersatu, perubahan jadi mungkin. Ini juga dapat menjadi pilihan efektif untuk tetap berekspresi saat ruang sipil menghadapi tantangan.


Perspektif Gender
Meskipun personil kami dominan laki-laki, karya kami juga menyuarakan pengalaman, aspirasi, dan perjuangan kaum perempuan. Menjadikan laki-laki sebagai advokat hak-hak perempuan penting, sebab isu-isu ketimpangan gender bukan hanya urusan kaum perempuan, melainkan juga laki-laki. Contoh lagu kami terkait hal ini adalah:

Perempuan Gembala adalah lagu yang menyuarakan hak kaum perempuan suku sasak yang ruang hidupnya (sehari-hari menggembala kerbau) tergusur oleh proyek strategis nasional pembangunan sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kemanakah bercerita tentang kegigihan perempuan yang bertahun-tahun mencari keberadaan dan nasib dari seseorang yang dicintai. Perempuan ini menghadapi jalan terjal, mengalami gangguan kesehatan mental luar biasa berhalusinasi sendiri, menangis, tapi terus mencari hingga akhir hayat.

Payung Hitam menyuarakan perjuangan ibu-ibu yang bertahun-tahun berdiri di depan istana negara menuntut keadilan atas pelanggaran HAM masa lalu. Seorang tokohnya, Maria Catarina Sumarsih, menyuarakan perspektif ibu yang anak-anaknya dibunuh, disiksa, dan diperkosa.

Pada ketiga lagu tersebut, dan juga lagu lainnya, sejumlah mahasiswi dari Universitas Trisakti ikut dalam produksi dan bernyanyi: Sandra Putri, Veronica, dan lainnya. Agar semakin inklusif, kami menyediakan sign language interpreter ketika menggelar pertunjukkan langsung.


Project-lead - @UsmanHAM_ID

1.      Pelaksana dan penanggungjawab prakarsa ini adalah Usman Hamid (vocal). Lahir di Jakarta, pada 6 Mei 1976. Musik digelutinya sejak kecil namun terhenti saat ia dan ibunya memulai inisiatif untuk perempuan yang kesulitan ekonomi pada 1997. Ia terlibat aktivisme hak manusia, hak satwa dan lingkungan selama dua dekade. Mimpi musiknya tak padam. Kini ia memadukan perjalanan aktivisme dengan musik yang dirangkum dalam album Bumi dan Aku Kini. Band-nya, UATB, adalah reinkarnasi dari band yang didirikan saat SMA, The Blackstones--berasal dari Hajar Aswad (The Holy Blackstone) yang diusulkan ibunya ketika resah pada nama band Usman saat itu: The Drugs. Bukan musiknya, tapi gaya hidup Usman dan bandnya yang cenderung memberontak aturan sekolah/rumah. The Blackstones-nya meraih juara festival musik 1990an: lirik dan komposisi terbaik Festival Musik Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia.



Team Members

2.   Akbar Kelana Halim (guitar), lahir di Los Angeles, California, USA, pada 6 Februari 1986. Ia adalah insinyur musik lulusan SEA Institute, Sydney, Australia. Belajar biola, piano dan teori musik sejak kecil. Dia bekerja di Mekel Music Management selama 15 tahun, mendampingi Elfona ‘Once’ Mekel saat menjadi vokalis Dewa19 hingga membantu produksi solo musik Once berjudul “Tak Sempurna”, “Intrinsik” (2015) dan “Sigma” (2023). Ia kerap mengiringi Once dalam berbagai acara musik di dalam dan luar negeri. Akun IG @Cukelana 


3.  Dwi Yudha Soefaca (guitar), lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 21 September 1988. Ia biasa disapa Win memiliki pengalaman unik bermusik. Mengawali karirnya sebagai seorang penggemar Slank di Sulawesi. Karena piawai memainkan karya Slank, ia direkrut menjadi Slank Crew, khususnya membantu pemain bass Slank, Ivanka. Kini ia menjadi pemain gitar dan keyboard additional Slank di balik layar saat pertunjukan langsung tapi tampil di depan ketika mengiringi Kaka Slank ketika tampil sebagai penyanyi solo. Akun IG @WinGuitars


Kis Winarko (bass), lahir di Jakarta, pada 4 Februari 1976. Bermusik sejak remaja, Kis makin giat bermusik saat membuat band The Blackstones bersama Usman lalu berkiprah sebagai pembawa ‘cover’ lagu-lagu The Beatles dan The Rolling Stones di tempat hiburan di Jakarta, termasuk Elvis dan SCBD. Saat kuliah di Jakarta, Kis dan Usman masuk dapur rekaman pada awal 1997 dengan nama Airmesta. Tapi krisis moneter pada 1997 membuat rekaman berhenti. Kesibukan kerja masing-masing membuat mereka vakum bertahun-tahun. Selain bermain bass di U.A.T.B., ia bekerja di sebuah perusahaan swasta. @Kis_donk_ah 


5.   Ficky Rizky (drum), lahir di Kuala Tungkal, Jambi, Pekanbaru, pada 3 Februari 1989. Sosok termuda di band U.A.T.B. berperan sebagai penggebuk drum. Memulai karirnya di Jambi, ia mengadu nasib di Jakarta sebagai pemain ‘homeband’ di kawasan Kelapa Gading. Selain menjadi pemain drum Usman And The Blackstones, ia juga tengah bereksperimen dengan kelompok musik Methosaverse. Sehari-hari, ia adalah karyawan di DW drums Indonesia, sebuah cabang perusahaan produksi drum terkemuka di dunia. @Vicky_Groove


 

6.  Selain kelima personil tersebut, UATB juga memiliki belasan personil paduan suara yang terlibat dalam produksi album Bumi dan Aku Kini. Mereka adalah anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Trisakti (PSMUT). Paduan suara ini meraih penghargaan di berbagai kompetisi paduan suara di tingkat nasional, regional, dan internasional. Sementara tim yang terlibat kegiatan promosi antara lain Fiqie Noor Anbiya (camera man), Diva Suu Kyi Larasati (admin media sosial, yang merupakan putri dari pembela HAM Munir Said Thalib), Wanda Hamidah dan Nancy Weber (pemasaran dan jaringan). Tim manajemen dan promosi: Fiqie Noor Anbiya (video camera man), Diva Suu Kyi Larasati (admin media sosial, putri Munir Said Thalib), Wanda Hamidah dan Nancy Weber (pemasaran dan jaringan).

 

Kolaborator

Once Mekel, penyanyi yang mensukseskan Dewa19 dan sukses berkarir solo lewat album dan single yang terkenal, antara lain Dealova, Simfoni Yang Indah, Anggun, Karena Kucinta Kau, dan Ditentukan Bersama. Penyanyi papan atas ini memiliki jutaan penggemar di dalam dan luar negeri, termasuk komunitas musisi. Menjadi anggota DPR RI Periode 2024-2029, dia tentu dapat ikut menggemakan pesan-pesan lagu kami di tingkat pengambil kebijakan.

 


Fajar Merah adalah vokalis band Merah Bercerita yang memiliki basis penggemar yang luas di Indonesia. Putra penyair Wiji Thukul yang hilang sejak 1998 ini telibat memproduksi lagu kami yang berjudul “Kemanakah” di mana ia juga menjadi vokal tamu. Fajar belum lama ini melakukan semacam mini tour di Tanah Eropa yang mendapat sambutan positif. Fajar telah tampil bersama kami dalam sejumlah pertunjukkan musik dalam kurun waktu 2023-2024.



0 comments:

Post a Comment

Bagus Rochadi. Powered by Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "